Ayo Bergabung!

Minggu, 04 Juni 2017

Puasa Ramadhan: Ibadah Pelipat Ganda Pahala dan Juga Imunitas!


Puasa, Kegiatan untuk tidak makan dan minum dalam waktu tertentu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Puasa sudah dilakukan sejak lama karena erat hubungannya dengan budaya, adat, kebiasaan dan agama.

Terlebih bagi umat Islam, puasa menjadi bagian dari ibadah yang tidak bisa dipisahkan terutama di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah momen paling ditunggu-tunggu oleh seluruh muslim di dunia. Karena selain berpuasa, seluruh amalan-amalan dan ibadah akan dilipatgandakan nilai pahalanya.

Hikmah lain dari rutin berpuasa adalah, ternyata puasa terbukti secara medis dan saintifik dapat meningkatkan imunitas loh. Sebelum adanya penelitian ini, masyarakat awam menganggap puasa yang rutin dan lama (prolonged fasting) tidak baik bagi kesehatan, merusak pola makan (karena harus makan di awal subuh dan larut malam), dan mengganggu ritme sirkadian alami. Namun, sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan di University of Southern California menyatakan bahwa puasa rutin lebih dari 3 hari (prolonged fasting) dapat memperbaiki kerusakan sistem imun dan memproduksi sel punca (stem cell) yang meregenerasi sel darah dan sel imun.

Sel punca (stem cell) adalah sel yang belum berkembang dan berpotensi untuk menjadi bermacam jenis sel baru dalam tubuh, sel punca juga berfungsi sebagai sistem perbaikan untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak demi kelangsungan hidup organisme. Sel punca bisa berkembang menjadi sel otot, sel darah, sel otak atau sel punca kembali.

Meningkatkan Sistem Imun dan Imunitas
menurut  Prof Valter Longo, Professor ahli Gerontologi dan ilmu hayati di University of California. menyatakan bahwa ketika kita lapar, maka sistem dalam tubuh akan mencoba untuk menghemat energi dengan menggunakan simpanan glukosa dan lemak juga merombak banyak sel imun yang tidak diperlukan, terutama sel yang rusak.

Dengan puasa berkelanjutan, jumlah sel darah putih memang akan menurun, namun ketika kita berbuka puasa maka sel darah putih akan diperbarui dan naik kembali jumlahnya. dari mana hal itu dapat terjadi? 
Hal itu terjadi karena adanya regenerasi sel darah putih dan sel imun berbasis sel punca melalui sistem hematopoietis (sistem pembentukan sel darah). Sehingga sel imun dan sel darah putih yang sudah rusak akan diperbarui kembali. Hal ini tentu akan meningkatkan imunitas orang tersebut.

Prof Longo juga menemukan bahwa puasa berkelanjutan juga mengurangi enzim PKA, enzim yang berhubungan dengan penuaan dan hormon yang meningkatkan resiko pertumbuhan kanker dan tumor.

Memperbaiki Kerusakan Akibat Efek Samping Kemoterapi
Fakta lain yang ditemukan peneliti adalah bahwa puasa berkelanjutan dapat melindungi pasien kanker dari efek buruk kemoterapi.

Hasil uji klinis telah dilakukan pada grup kecil pasien kanker yang mendapatkan kemoterapi. Meraka melakukan puasa selama 72 jam dan ternyata hasilnya puasa dapat melindungi dan memperbaiki kerusakan karena efek dari kemoterapi. Dimana biasanya, pasien kanker yang melakukan kemoterapi akan mengalami kerusakan sel-sel lainnya, bahkan merusak organ tubuh yang sehat.

Menurut Prof. Longo, puasa tidak hanya melindungi sel dan organ sehat dari efek samping kemoterapi, tapi juga membantu meningkatkan imunitas dalam melawan kanker itu sendiri. Namun menurutnya, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan dengan melibatkan aspek dari segi bahan makanan dan gizi dan dilakukan dibawah pengawasan dokter dan ahli gizi.

Penelitian ini didukung oleh the National Institute of Aging of the National Institutes of Health (grant numbers AG20642, AG025135, P01AG34906) 
dan uji klinis didukung oleh the V Foundation and the National Cancer Institute of the National Institutes of Health (P30CA014089).

Hikmah
Ternyata puasa berkelanjutan seperti puasa Ramadhan tidak hanya menambah amalan dan pahala berlipat yang Allah janjikan, tapi juga memberikan bonus kesehatan bagi yang melakukannya dengan benar, yaitu peningkatan imunitas dan pelindung dari efek samping kemoterapi pada pasien kanker.

Namun sayangnya, banyak orang yang lebih memilih meninggalkan puasa demi menjaga jam minum obat yang mengikat, memaksa, dan menyiksa dengan kekhawatiran imunnya akan drop dan virusnya akan resisten. Padahal, dengan melakukan puasa ramadhan justru memberi keberkahan sisa usia, menambah bekal pahala kelak dan menyehatkan tubuh yang rusak dan sakit.

Masih berpikir untuk meninggalkan puasa wajib yang Allah perintahkan hanya demi kewajiban minum obat yang diperintahkan dokter? 
Kalau masih, anda perlu merenungkan, kesehatan dan kesembuhan itu datangnya dari siapa?


Bangkit bersama MAHA STAR!

Sumber:



Senin, 22 Mei 2017

Antiretroviral (ARV) Bukan Sekedar Efek Samping

Banyak yang masih belum mengetahui, apa itu ARV, kenapa pada nama MAHA STAR dibubuhi : Stop ARV? emangnya ARV itu apa sih?
ARV atau antiretroviral adalah jenis obat kimia yang dianggap dapat menekan replikasi virus HIV pada orang yang divonis ODHA. Seseorang yang divonis mengidap HIV diharuskan meminum ARV setiap hari seumur hidupnya sehingga dia dijanjikan punya umur panjang dan bebas dari kondisi AIDS (kondisi drop karena hilangnya imunitas tubuh dalam melawan penyakit lain).
Terdengar simple, mudah dan melegakan bukan? divonis HIV, ditakuti-takuti berumur pendek, dan diberi harapan bisa berumur panjang bila konsumsi ARV seumur hidup, dan poff! happily ever after? ternyata tidak.
loh, kenapa?

Sebelum kesana, yuk kita berkenalan dulu dengan jenis-jenis ARV.
Di Indonesia, terdapat 3 golongan antiretroviral yang tersedia yaitu NRTI, NNRTI dan protease inhibitor (PI).

NRTI: Zidovudin (ZDV), Tenofovir (TDF), Stavudin (d4T), Abacavir (ABC), Lamivudin (3TC), Emtricitabin (FTC)
NNRTI : Nevirapin (NVP), Efavirenz (EFV)
Protease inhibitor : Lopinavir/Ritonavir (LPV/r)

ARV lini pertama adalah kombinasi antara dua NRTI dan satu NNRTI. ada 3 jenis obat yang akan digunakan.
NRTI pertama : Tenofovir/Zidovudin/Stavudin
NRTI kedua : Lamivudin/Emtricitabin
NNRTI : Nevirapin/Efavirenz

Terdapat pula FDC (Fixed Dose Combination/ Kombinasi Dosis Tetap) yang diminum sehari sekali dengan kombinasi 3in1 ARV (terdiri dari tenofovir, lamivudin dan efavirenz) dan duviral (Zidovudin dan Lamivudin). Karena Duviral hanya terdiri dari 2 macam obat jenis NRTI, maka perlu ditambahkan satu jenis lagi dari golongan NNRTI, yaitu Efavirenz.
Dengan kombinasi-kombinasi ARV diatas, tervonis HIV harus meminum obat-obat tersebut secara disiplin, tepat waktu, dan jangka panjang, atau ancamannya, virus HIV akan resisten, padahal obat-obat itu tergolong obat keras dan berbahaya bagi organ tubuh manusia.

Lalu pertanyaan besarnya,
benarkah ARV adalah satu-satunya jalan?
sayangnya, dokter-dokter konvensional kita masih beranggapan begitu, padahal ARV tidak sepenuhnya innocent.

1. Efek Samping ARV adalah AIDS itu Sendiri
Apa yang terjadi bila anda makan vetsin/MSG/Monosdium glutamat/penyedap rasa setiap hari seumur hidup? paling tidak, akan terjadi reaksi-reaksi abnormalitas dalam tubuh, itu lah kenapa ahli gizi dan dokter membatasi konsumsi vetsin dan melarang untuk dikonsumsi terlalu sering.
Padahal, vetsin dibuat dari bahan-bahan alami dari alam dengan bantuan teknologi industri, namun tetap memberikan efek negatif. sekarang, anda banyangkan ARV, obat keras buatan lab harus anda konsumsi setiap hari.
Bahkan pakar medis dan dokter mengakui bahwa ARV memiliki efek samping jangka pendek dan panjang. Efek jangka pendek yang paling sering terjadi adalah mual, nyeri ulu hati, pusing, linglung, halusinasi, gangguan pencernaan (diare), gangguan kulit (menghitam, ruam), dan efek psikologis seperti mood swing atau menjadi agresif. meski tampak ringan, efek ini dapat mengganggu produktifitas sehari-hari.
Efek jangka panjang yang akan terjadi bila ARV dikonsumsi dalam waktu lama adalah lipodistrofi, yaitu perubahan distribusi ke daerah tubuh yang tidak lazim, sehingga lemak akan tertumpuk di dada pria (spt payudara), belakang leher, dan kehilangan lemak di pipi), sindrom steven johnson, dimana seluruh kulit melepuh dan menyebabkan kematian. efek jangka panjang lainnya seperti kerusakan ginjal, hepatoksisitas (liver yg keracunan), sirosis hati, kerusakan syaraf pusat, bipolar,  kehilangan kordinasi tubuh, pikun, dll. efek jangka panjang ARV bisa dilihat di sini.

2. Bahan Baku ARV yang Tidak Jelas dan Tidak Halal
Ketika kita makan, maka kita sangat peduli dengan apa saja yang terkandungnya, gizinya, cara memasaknya, bahan bakunya, hingga bumbu-bumbunya komplit dengan tingkatan pedasnya. Tentu saja makanan-makanan berpengawet, pewarna buatan, berkimia pestisida, dan tidak higienis akan ditolak masuk ke mulut kita.
Tapi apakah kita memberlakukan hal yang sama pada obat? seberapa sering anda mengecek komposisi obat, takaran, indikasi, dan efek samping obat bahkan obat warung sekalipun? Taukah anda bahwa 90% obat di Indonesia tidak halal karena mengandung alkohol, bahan baku dari babi, dan zat-zat psikotropika?
Bahkan untuk beberapa jenis ARV seperti Efavirenz mengandung benzodiazepine, zat narkotika dengan efek sedatif atau penenang yang membuat peminumnya sempoyongan, ngefly, pusing, berhalusinasi bahkan bila diminum jangka panjang akan menyebabkan kerusakan syaraf pusat.
silakan baca lebih banyak tentang zat narkotika dalam ARV di sini.
Lalu, dimanakah letak keberkahan dan kebahagian hidup kalau anda harus terus menenggak zat narkotika seumur hidup hanya karena ingin panjang umur?

3. Inkonsistensi Kebijakan dan Kekacauan Distribusi ARV
Kejadian setiap tahun yang rutin terjadi adalah kurangnya stock bahkan kekosongan obat di berbagai tempat di Indonesia. Hal ini terjadi merata di seluruh Indonesia setiap tahunnya. ODHA yang biasanya mengambil obat untuk seminggu hanya diberi 3 hari bahkan harus rela pinjam dan bahkan absen tidak minum untuk sehari dua hari, yang biasanya mengambil FDC, maka harus merubah jadwal karena diberi pecahan, bahkan tak jarang, ARV-ARV yang telah kadaluarsa di gudang dikluarkan dan diberikan pada tervonis HIV, dengan pembenaran-pembenaran agar tetap mau menenggaknya tanpa rasa khawatir. Fakta tentang ARV kadaluarsa yang dipaksakan pada ODHA bisa dibaca di sini.


Screenshot yang diambil dari grup "monitoring ARV"

Dengan kondisi seperti itu, inkonsistensi para pelaku komersialiasi obat mulai terjadi. Sebelum terjadi kekosongan obat, para tervonis ditakuti-takuti oleh dokter dan konselor dengan mengatakan bahwa harus patuh minum ARV, tidak boleh disubstitusi, setiap hari, pada jam yang tepat, bila terlewat/tidak patuh maka virus akan resisten, pengobatan gagal, dan harus naik lini 2. Namun ketika terjadi kekosongan ARV, dokter dan konselor mulai longgar dengan mengatakan "tidak apa-apa terlewat 2-3 hari tanpa ARV, yang penting pola makan dan istirahat dijaga ya", atau bahkan ada yang diresepkan vitamin C dan antibiotik sebagai substitusi ARV beberapa hari. benar-benar tidak konsisten ya.

4. Komersialisasi isu HIV/AIDS dan ARV
Para petugas lapangan dan konselor mengklaim bahwa mereka mengajak orang-orang untuk VCT adalah tindakan sosial dan sukarela, padahal ada pundi-pundi yang mengalir disitu, terlebih bila para petugas lapangan, dampingan, dan konselor bisa menjaring orang-orang melebihi target bulanan, maka bonus rupiah bisa didapat. Hal seperti ini memicu banyak kasus para petugas lapangan yang mencuri data pasien HIV dari rumah sakit dan mengklaimnya sebagai hasil ajakan mereka untuk dilaporkan ke KPA. 
Belum lagi ketika tervonis HIV kemudian dipaksa untuk ambil ARV oleh para konselor ini, bahkan tak jarang mereka nekat datang kerumah pasien dan membocorkan status HIVnya pada keluarganya, hal yang seharusnya dirahasiakan oleh mereka, bahkan seharusnya menjadi kode etik mereka.
Kenapa mereka bisa berbuat seperti itu? lagi-lagi karena rupiah. Makin banyak ODHA yang ambil ARV, maka target bulanan mereka tercapai.
Belum lagi privilege bagi mereka yang achieve target, mereka akan diundang menginap di hotel-hotel untuk mengikuti pelatihan dan lokakarya ini itu bagi konselor. suatu lahan subur yang menggiurkan.


Screenshot bukti para pelaku komersialisasi isu HIV yang mengaku bekerja sosial

Loh, bukankah ARV itu gratis? lalu dimana letak komersialisasinya?
Siapa bilang ARV gratis? ARV yang sampai ke tangan para ODHA itu dibeli negara oleh uang APBN dan didistribusikan pada ODHA dengan subsidi. Bila tanpa subsidi negara, ODHA setiap bulannya harus membayar 600-800 ribu sebulan untuk lini 1, atau 1,5 juta hingga 2 juta untuk lini 2.
Dari manakah negara membeli ARV? tentu dari perusahaan farmasi atau negara-negara yang memproduksi massal ARV seperti India. Suatu keuntungan massif untuk perusahaan obat tersebut bisa memasok obat untuk banyak negara. Tak jarang, para perusahaan ini memberi "bonus" dengan cara mengundang ke seminar-seminar di luar negeri, atau untuk sekala besar, adalah donasi kesehatan yang diberikan melalui WHO dan world bank. Tak heran bukan rantai jual-beli obat ini begitu terstruktur dan masif?
Belum lagi rencana pemerintah yang baru-baru ini menuai kontroversi, setelah kebijakan SUFA (pemberian ARV tanpa melihat CD4), kebijakan PrEP (konsumsi ARV bagi non-reaktif sebagai pencegahan), lalu muncul kebijakan ARV-B (ARV berbayar). Pemerintah mulai tidak yakin apakah negara masih bisa mensubsidi ARV bagi rakyatnya, terlebih angka tervonis tiap tahunnya selalu naik, diiringi gencarnya program VCT (bila pemerintah saja mulai khawatir dengan keuangan negara, lalu apa yang membuat mu yakin kalau ARV akan selamanya gratis?), maka pemerintah berencana membuat ARV bisa dibeli di apotik. simak lebih lengkap soal ARV berbayar di sini.

Silakan simak video tersebut, kenapa MAHA STAR menolak ARV:


Namun kembali lagi, MAHA STAR tidak pernah menyuruh anggotanya untuk tidak atau berhenti ARV. MAHA STAR hanya memberikan pertimbangan bagi yang bingung harus kah menenggak obat secara disiplin dan seumur hidup, tapi keputusan akhir tetap ada ditangan individu masing-masing, karena diri masing-masing lah yang akan merasakan semua resiko dari pilihannya.
Bagi mereka yang memilih untuk tidak meracuni diri dengan ARV, MAHA STAR siap untuk menjadi sharing dan supporting group sehingga bisa lebih sehat dan tidak merasa sendiri.
Tak perlu risau,
keep calm and fight stigma

Bangkit bersama MAHA STAR!

Jumat, 12 Mei 2017

Sambiloto, Potensi Terbaik Antiviral dan Pendongkrak Imun

Di dunia ini sebetulnya terlimpah banyak sumber daya alam yang diciptakan Tuhan untuk dimanfaatkan sebagai pengobatan alami. Bila kita melihat kebiasaan manusia yang menjunjung kearifan lokal, mereka tampak segar bugar dan sehat.
Sambiloto (Andrographis paniculata) disebut sebagai tanaman dengan banyak manfaat dan potensi. dari banyak hasil penelitian dan pengembangan, Ekstrak sambiloto memberikan hasil yang sangat memuaskan, terlebih pada pasien dengan penyakit infeksi dan penurunan kekebalan tubuh. Hal ini dikarenakan aktivitas biologis pada zat Andrographolide yg yang terkandung dalam sambiloto.  Dari banyak jurnal ilmiah yang sudah dikumpulkan MAHA STAR, berikut adalah manfaat dari tanaman sambiloto.

  1. Efek Hepatoprotektif: dari banyak penelitian, ternyata ektrak sambiloto dengan kandungan andrographolide ini memiliki fungsi sebagai pelindung liver atau hepaprotektif. Sambiloto dapat melindungi kerusakan liver yang diakibatkan berbagai hal terutama toksisitas atau kerusakan liver akibat toxic/racun.
  2. Antimikroba dan antiparasit: Ternyata andrographolide dalam sambiloto juga mampu menangkal infeksi-infeksi dari bakteri, virus, dan parasit. Bakteri yang efektif dibasmi oleh sambiloto sebagaian besar adalah bakteri-bakteri pencernaan yang merugikan, sangat efektif bagi anda yang mengalami masalah pencernaan. Sambiloto juga terbukti efektif menghambat virus herpes simplex tanpa ada efek samping juga beberapa parasit yang menjangkiti sumber air
  3. Antioksidan dan Anti-inflamasi: Selain kandungan andrographolide, ekstrak sambiloto juga mengandung phenol dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh. 
  4. Terapi penyakit infeksi: beberapa penyakit infeksi seperti leptospirosis, TB paru, dan meningitis dapat dibantu penyembuhannya dengan terapi ekstrak sambiloto dan terbukti efektif dengan efek samping hampir tidak ada.
  5. Immune booster dan Inhibitor HIV: Sebuah penelitian juga dilakakun terhadap pasien HIV, dimana hasilnya terdapat peningkatan CD4 yang signifikan, yang bisa disimpulkan bahwa sambiloto dapat menginhibisi (mengganggu) replikasi HIV.

Mengolah Sambiloto
Cara termudah dan terbaik untuk memanfaatkan sambiloto adalah dengan cara dibuat menjadi teh. tanaman sambiloto (bisa juga yang sudah dikeringkan) bisa diseduh dengan air panas sehingga zat-zat bermanfaat yang terkandung dalam tanaman itu terekstrak optimal. 
Ratio secara umum adalah segenggam sambiloto direbus dengan 3 cangkir air hingga tersisa 1 cangkir air, saring dan minum. bisa diminum 2-3 kali sehari.

Efek Samping
Karena kandungannya yang sangat kaya, tidak semua orang bisa mudah mengonsumsi sambiloto. Pola hidup dan kondisi fisik berpengaruh juga pada efek samping yang dirasakan. Selama dalam takaran normal, tidak berlebihan, dan tidak dalam jangka panjang, sambiloto aman dikonsumsi.
Efek samping yang pernah dilaporkan adalah mual dan gangguan pencernaan akibat dari kandungan andrographolide yang sangat pahit. Perhatikan juga waktu jeda terapi sambiloto jika anda sedang menggunakan obat-obatan kimia sebagai treatmen utama, dikhawatirkan terdapat kontra indikasi.


Berikut adalah video dari youtube MAHA STAR tentang sambiloto sebagai terapi.

HIV dapat diatasi dengan sambiloto (courtesy Berita Islam Masa Kini)

Sumber:


Senin, 01 Mei 2017

Tes Viral Load, Benarkah Menghitung Jumlah Virus HIV?

Tes viral load (atau biasa disingkat VL) digunakan sebagai acuan keberhasilan terapi antiretroviral (ARV) dengan menghitung (yang katanya) jumlah HIV dalam darah sampel menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Bila angka VL tinggi (misalnya ribuan copy) maka artinya virus masih banyak dalam tubuh, dan dikatakan "sehat" bila hasil dari VL adalah undetectable atau tidak terdeteksi.

Namun benarkah tes VL seakurat itu bisa menghitung jumlah virus HIV? padahal eksistensi virus ini saja masih menjadi perdebatan banyak pakar dan ahli medis di seluruh dunia.
Kita sebagai awam tentu masih bisa menilai dan meneliti sendiri, diantaranya melalui testimoni, dan juga menelaah jurnal-jurnal laporan penelitian ilmiah dalam hal tes viral load ini.

Testimoni Chris Janik: Perbedaan Signifikan Hasil VL di Dua tempat
Sebuah testimoni di grup Rethinking AIDS (afiliasi internasional MAHA STAR) terkait dengan tes viral load dari Chris Janik di Jerman, berikut transkrip aslinya:

"We all were talking a lot about the disclaimer in the test for viral load (PCR). Now I had enough to talk about this and decided to measure my viral load at two different laboratories at 11. April 2017.
First in Bonn at 1:45 pm and then in Cologne (were my HIV doc is) at 3:15 p.m.
There are 90 minutes between both blood takings. Shouldn't be the viral load at the same day within such a short period of time not be approximately the same????
But the result in Cologne ist three times (!!!!) bigger than what is measured in Bonn?"


 Hasil VL Chris Janik di Bonn (71.000 copies) tgl 11 April 2017 pukul 13:45

Hasil tes VL Chris Janik di Cologne (248.000 copies) tgl 11 April 2017 pukul 15:15

terjemahan: Kita semua sudah sering membahas tentang sanggahan dalam tes untuk viral load (PCR), sekarang saya sudah merasa cukup untuk membicarakannya dan memutuskan untuk mengukur viral load saya di dua lab yang berbeda pada tanggal 11 April 2017.
Pertama di Bonn pada pukul 1:45 siang dan di Cologne (dimana dokter HIV saya berada) pada pukul 3:15 sore.
Ada selisih waktu sekitar 90 menit antara kedua pengambilan darah. Bukankah seharusnya jumlah viral load pada hari yang sama dengan waktu yang singkat akan menghasilkan hasil yang kurang lebih sama??? tapi hasil VL di Cologne bisa tiga kali lipat lebih besar dari apa yang dihasilkan di Bonn?

Perbedaan signifikan hasil VL di dua lab berbeda di hari yang sama



Testimoni Juliane Sacher: Non-Reakif, Tapi VL Tinggi
Sebagai informasi, Dr. Juliane Sacher adalah seorang dokter swasta yang pernah bekerja bersama Otoritas Federal Jerman dalam studi HIV tahun 1987 - 1993, mengabdi pada komisi HIV/AIDS di parlemen tahun 1988, menerima penghargaan 100.000 Deutschmark untuk kerjanya pada pasien HIV/AIDS tahun 1990, dia bekerja sebagai ahli biostatistik di Wuppertal University tahun 2000 - 2002, dia tertarik dalam penyakit kronis termasuk pengobatan-pengobatan mainstream, dan sekarang menjadi salah satu anggota di Rethinking AIDS dan menjadi komite ahli bidang medis.

Dalam sebuah artikel ilmiah yang ia publikasikan tahun 2006, dia membahas tentang pengalaman dan analisa dia terhadap tes viral load. Dalam penelitiannya dia menggunakan darahnya sebagai sampel, dan melabeli dengan nama temannya yang pernah divonis HIV positif lalu diberikan pada petugas lab. bagaimanakah hasilnya? Dr. Sacher yang memang negatif HIV tapi dalam darahnya terdeteksi 1800 copies "virus". Ternyata Dr. Sacher ini penderita reumatik yang berhubungan dengan pembengkakan kronis. Jadi kesimpulannya beliau, bahwa tes PCR viral load tidak menghitung jumlah virus HIV, bahkan stres oksidatif dan pembengakakan akan dihitung. 
Tulisan lengkap Dr. Sacher bisa diunduh di sini.


Kary Mullis, Penemu PCR: "PCR hanya detektor, BUKAN Alat Penghitung!"
Dalam sebuah dokumenter, Kary Mullis, penemu teknik PCR, peraih nobel bidang biokimia, dan AIDS Denialist mengungkapkan bahwa, PCR dapat mendeteksi DNA dengan memproduksi jutaan copy, tapi perlu dicatat, PCR bukan alat ukur, tapi hanya alat pendeteksi (detektor), mengukur jumlah HIV pada sampel darah pasien dapat menghasilkan kesalahan angka yang serius.
Kary Mullis berpendapat bahwa para perusahaan medis dan lab menyalahgunakan temuannya (yaitu teknik PCR) untuk tujuan yang salah. Dokter-dokter mengatasnamakan tingginya angka VL (dimana ternyata angka VL tidak ada artinya) untuk memberikan obat-obatan. Benarkah obat-obatan itu menekan virus hingga undetectable? atau ternyata menekan aktivitas sel-sel normal?
Cuplikan tentang PCR dari Kary Mullis bisa dilihat di video di bawah ini.

video


Bahkan, dalam video diatas dikatakan juga, bahwa:
dalam brosur alat PCR COBAS HIV-1 Test tertulis bahwa:
"Alat tes HIV-1 COBAS tidak ditujukan untuk digunakan sebagai tes screening adanya virus HIV dalam darah, atau produk darah, atau sebagai tes diagnostik DALAM MENGKONFIRMASI adanya infeksi virus HIV."
lalu kenapa dokter-dokter masih menggunakan alat ini untuk mencari angka yang sebetulnya tidak ada artinya??



Kutipan Berbagai Hasil Penelitian
Berikut ini adalah kumpulan dari berbagai hasil penelitian internasional terkait dengan tes VL PCR yang ternyata tidak akurat:

  1. "hasil PCR positif HIV pada 3 kelahiran baru, bayi-bayi tersebut asimtomatik dan 4 telah dites pada 18 bulan menggunakan ELISA dgn 2 antigen berbeda dan 1 rapid tes untuk konfirmasi. Secara mengejutkan, seluruh dan 3 kelahiran baru yang positif PCR ternyata non reaktif pada ELISA" - Agarwal D Agarwal NR. False positive HIV-1 DNA PCR in infancy. Indian Pediatr. 2008 45 245-6
  2. "Orang yang malnutrisi biasanya memiliki angka viral load tinggi karena mereka hanya memiliki sedikit sumber daya dalam tubuhnya untuk melawan virus, Orang-orang dengan viral load tinggi akan lebih menulari. Malaria, bilharzia dan cacing usus juga akan menaikan angka viral load seseorang - Cullinan K. Radical approach to AIDS prevention. Health-e News (Cape Town). 2006 Jun 5
  3. "Secara paradoks, Serum awal kolestrol, tapi bukan atorvastatin, mempengaruhi viral load yang melambung pada minggu ke-4" - Negredo E Clotet B, Puig J, Perez-Alvarez N, Ruiz L, Romeu J, Molto J, Rey-Joly C, Blanco J. The effect of atorvastatin treatment on HIV-1-infected patients interrupting antiretroviral therapy. AIDS. 2006 Feb 28 20(4) 619-21.
  4. "PCR Kuantitatif seharusnya tidak digunakan dalam tes diagnostik HIV karena hasil positif palsu dan negatif palsu bisa terjadi di berbagai kondisi" - earon M. The laboratory diagnosis of HIV infections. Can J Infect Dis Med Microbiol. 2005 Jan 16(1) 26-30.
  5. "Dalam penelitian kami, kami mengalami insiden positif palsu HIV DNA PCR yang tinggi (75%) terutama pada anak-anak yang lebih muda" - Shah I. Diagnosis of perinatal transmission of HIV-1 infection by HIV DNA PCR. JK Science. 2004 Oct-Dec 6(4) 187-189.
  6. "56 orang yang secara klinis asimptomatik terinfeksi HIV, 31 (55%) orang yang dimana terinfeksi juga oleh helminth (cacing usus) diteliti. Pada permulaan, HIV VL sangat kuat berkorelasi dengan jumlah telur yang dikeluarkan dan lebih tinggi pada orang yang terinfeksi oleh lebih dari satu helminth. Setelah treatmen helminth, 6 bulan perubah VL HIV secara signifikan berbeda antara grup yang sukses ditreatmen dan grup yang masih terinfeksi helminth" (artinya infeksi cacing usus mempengaruhi jumlah VL HIV) - Wolday D Mayaan S, Mariam ZG et al. Treatment of Intestinal Worms Is Associated With Decreased HIV Plasma Viral Load. J Acquir Immune Defic Syndr. 2002 Sep 1 31 56-62
  7. "tidak ada hubungan kepatuhan (ARV) dengan VL, meskipun hanya 13 orang (31%) yang memenuhi seluruh target kepatuhuan" - Stein MD Rich JD, Maksad J et al. Adherence to antiretroviral therapy among HIV-infected methadone patients: effect of ongoing illicit drug use. Am J Drug Alcohol Abuse. 2000 May 26(2) 195-205
  8. "DNA kanker payudara dari 40 pasien di teskan PCR dengan HIV-1 gp41, dan SELURUH sampel dihasilkan positif. fragmen-fragmen DNA diperkuat dengan 7 sampel acak kanker payudara, rangkaian DNA kanker payudara menunjukan paling tidak 90% homologi pada HIV-1 gen untuk gp41" - Rakowicz-Szulczynska EM Jackson B, Szulczynska AM, Smith M. Human immunodeficiency virus type 1-like DNA sequences and immunoreactive viral particles with unique association with breast cancer. Clin Diagn Lab Immunol. 1998 Sep 5(5) 645-53
  9. "pada 223 spesimen untuk anak terinfeksi HIV, 89% positif PCR, 11% negatif PCR, dan 1% dengan status tidak jelas (indeterminate)" - Bremer JM Lew JF, Cooper E et al. Diagnosis of infection with human immunodeficiency virus type 1 by a DNA polymerase chain reaction assay among infants enrolled in the women and infant's transmission study. J Pediatr. 1996 Aug 129(2) 198-207
  10. "hanya 50% dari grup lab kolaborasi uji klinis AIDS yang mampu mendeteksi 60 copies dari HIV RNA di 150,000 sel di program standarisasi PCR Institut Kesehatan Nasional. 33% dari lab-lab ini mendapatkan kendala dengan hasil-hasil positif palsu" - Tudor-Williams G. Early diagnosis of vertically acquired HIV-1 infection. AIDS. 1991 Jan 5(1) 103-5

 Laporan lengkap terkait penelitian-penelitian ketidakakuratan VL PCR bisa dilihat di sini.

So, masih yakin dengan harga tes VL yang tinggi berbanding lurus dengan ketepatan dan validitas hasil??
Selalu,
Gue MAKIN enggak kudet
bangkit bersama MAHA STAR!


Rabu, 26 April 2017

1 Lagi Korban ARV yg selalu ditutupi pihak mainstream

Sekedar cerita sobb.
Temen sayaa kemarin telah pulang ke rumah allhd swt. Sdah temenan lama, cmn gk bgtu deket.. Sempt ktmu bbrpa bulan seblumnya ..badannya smkin hari smkin kuruss,,, kuruss bangett,,, wajahnya gk frees...  Ada pnyakit kulit di sekujurr tubuhnyaa... Aku pikirr dia hnya pnyakit kulit,, mngkin dia kurus krna pnyakit dalam.  Stelah beberapa minggu terkhir denger smpet di larikan ke rumah sakit. Dan kmren dia hrus plng ke rumah allah  swt. Setelah aku korek info lebih dlm sama temen deketnya dia... Ternyata dia komsumsi arv sejak 2013, sblum komsumsi arv dia sehat sehat saja. Krna mngkin di pksakan minum arv jdii sepertii itu sakit. sakitan. di thun 2017 hrus pergi buat slmnya.jika pun aku tau klo dia komsumsi arv... Aku hentikan , tpii allah berkhndak lain...  Aku bersyukur kpda allah swt, dengan dikenalkan maha star, aku tau lebih dalam tentang pentingnya kesehatan. Trimksihlah pada tuhanmu.. Pada ibumu yg sllu berdoa di setiap langkahmu..  Setlah kjdian inii,,, semua temen aku kumpulin lakukan kopdar,, tentang pengertian hiv yg sesungguhnya membuat orang di bodohi,, pengertian arv dan bahaya arv,,, sertaa cantumkan bbrpa pnyakit dan solusi buat secaraa alam. Dan menyarankan agar tidak komsumsi arv.



Selasa, 18 April 2017

Konsumsi Daun Kelor? Ternyata Banyak Manfaatnya!

Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman dengan daun berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai, dan merupakan tanaman herbal dengan banyak penggunaan yang digunakan sebagai makanan dan sebagai pengobatan alternatif di seluruh dunia. Daun kelor telah diidentifikasi oleh para peneliti sebagai tumbuhan dengan banyak manfaat kesehatan termasuk nutrisinya dan manfaat untuk pengobatan. Berikut manfaat dari daun kelor :

Kaya Akan Nutrisi

Pengunaan Daun Kelor dalam dunia medis telah diklaim banyak komunitas berdasarkan pengalaman dan sekarang lambat laun dikonfirmasi oleh science. Daun Kelor dipercaya merupakan sumber dari vitamin c, kalsium, beta karoten, potassium dan protein. Daun Kelor merupakan sumber natural antioksidan karena memiliki kandungan flavonoids, ascorbic acid, carotenoids, and phenolics. 
Kandungan nutrisi Daun Kelor dalam satu cangkir dan daun yang dihaluskan (21 gram) mengandung:
Protein: 2 grams.
Vitamin B6: 19% of the RDA.
Vitamin C: 12% of the RDA.
Iron: 11% of the RDA.
Riboflavin (B2): 11% of the RDA.
Vitamin A (from beta-carotene): 9% of the RDA.
Magnesium: 8% of the RDA.
Note: RDA adalah recommended dietary allowance atau rekomendasi untuk diet harian

Penelitian juga mengungkapkan bahwa tiap bagian dari tumbuhan kelor, buah, biji, daun, bunga, kulit kayu, dan akarnya memiliki kandungan yang bermanfaat yang dapat membantu manusia. Dan sangat langka karena untuk sebuah tumbuhan yang memiliki banyak nutrisi penting dan yang lebik lagi dalam kuantitas yang tinggi. Daun Kelor sendiri memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan berbeda dibanding dengan yang ditemukan secara individual dalam beberapa jenis makanan dan sayuran.

Seperti yang kita ketahui, kebanyakan sayuran akan kehilangan nutrisi setelah dimasak. Namun penelitian mengungkakpkan bahwa daun kelor segar maupun yang sudah diolah menjadi bubuk, disimpan selama berbulan-bulan tanpa dimasukan ke kulkas tidak kehilangan nilai gizinya. Bahkan, daun yang dimasak di air mendidih menghasilkan 3 kali kandungan zat besi daripada daun segarnya.

Melindungi Dari Racun Arsenik
Makanan yang terkontaminasi arsenik merupakan masalah yang terdapat disekitar kita, dan beras merupakan makanan yang paling banyak mengandung arsenik. Walaupun kandungan arsenik tidak memperlihatkan gejala yang cepat, namun kontaminasi arsenik dalam jangka panjang dapat bebahaya. Studi melaporkan bahwa indikasi kontaminasi arsenik jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker dan penyakit jantung.

Beberapa penelitian pada tikus mengindikasikan bahwa Daun Kelor dapat melindungi dari kontaminasi jangka panjang racun arsenik.  Namun studi ini baru dilakukan pada hewan, belum dapat dipastikan apakah akan seefektif jika diberikan pada manusia, walaupun hasilnya sangat memuaskan.

Anti Inflamasi
Inflamasi adalah respon alami tubuh dalam menghadapai infeksi. Ini adalah mekanisme pertahanan tubuh yang penting, namun dapat menjadi masalah serius jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Inflamasi yang terus menerus dapat menjadi penyakit yang kronis termasuk penyakit liver dan bahkan kanker.
Daun kelor sudah banyak digunakan dalam dunia kesehatan, sepanjang dekade terakhir telah menyembuhkan banyak pernyakit akut dan kondisi kronis. Berdasarkan penelitian, daun kelor sangat efektif dalam penanganan inflamasi. Kandungan flavonols dan phenolic acid yang terkadung dalam Daun Kelor terkait dengan aktivitas anti inflamasi, anti oksidan, dan anti bakteri.

Anti mikroba
Bermacam-macam ekstrak tumbuhan Kelor dari mulai daun, biji, kulit kayu, akar dilaporkan memiliki potensi anti mikroba. Studi menunjukan bahwa ekstrak Daun Kelor memiliki potensi untuk mengatasi beberapa infeksi bakteri.


Melawan Radikal Bebas (Kaya Antioksidan)
Antioksidan melawan radikal bebas, molekul yang menyebabkan stres oksidatif, kerusakan sel, dan inflamasi. Polifenol adalah senyawa yang dapat mengurangi kerusakan akibat stres oksidatif pada jaringan tubuh. Sebuah penelitian melaporkan bahwa Daun Kelor memiliki kadar polifenol dengan jumlah yang tinggi. Dibanding bunga dan bijinya, Daun pada tumbuhan Kelor memiliki tingkat antioksidan yang lebih tinggi. 

Bahkan, satu studi pada wanita menemukan bahwa mengambil tujuh gram (1,5 sendok teh) ekstrak Daun Kelor bubuk setiap hari selama tiga bulan secara signifikan meningkatkan kadar antioksidan dalam darah.

Ekstrak Daun Kelor juga dapat digunakan sebagai pengawet makanan. Senyawa antioksidan dalam Daun Kelor dapat meningkatkan umur daging mentah dengan mengurangi oksidasi. Hal ini dibuktikan dengan penelitian pada beberapa ekor kambing. Kambing yang diberi suplementasi Daun Kelor menunjukan indikasi aktifitas antioksidan yang tinggi dibanding dengan kambing yang diberi supplementasi produk lain. 

Anti Kanker
Daun Kelor terbukti memiliki potensi pengobatan untuk melawan kanker, radang sendi, diabetes, dan beberapa penyakit. Penelitian mengungkapkan bahwa salah satu senyawa bioaktif dari Daun Kelor, niazimicin, memiliki peran sebagain inhibitor terhadap dua tahap pembentukan tumor pada tikus. Hasilnya, niazimicin menunjukan 50% penundaan dalam promosi tumor dan menurunkan aktifitas papilloma sebanyak 80% pada 10 minggu dan 17% pada 20 minggu promosi. Selain untuk menghalangi pertumbuhan tumor, senyawa niazimicin juga berkontribusi untuk efek anti karsinogenik.

Konsumsi Daun Kelor
Daun kelor dapat dimakan dari daun segar, dimasak atau dikeringkan. Daun Kelor dapat dikonsumsi seperti sayuran lainnya, karena Daun Kelor ini merupakan tumbuh yang sangat mudah diolah dan dikonsumsi. Daun kelor segar dapat digunakan dalam berbagai macam hidangan, atau dimasak sebagai sayuran seperti bayam. 
Selain dibuat menjadi masakan/sayuran, ternyata ada cara lain yang asik loh untuk mengonsumsi Daun Kelor.


Teh Herbal Daun Kelor
Cara membuat teh Daun Kelor :  
  • Pertama, cuci bersih beberapa Daun Kelor
  • Keringkan Daun Kelor .
  • Didihkan air, dan masukkan daun dalam panci mendidih. Masak sekitar 1 menit.
  • Saring airnya dan tempatkan daun yang sudah dimasak pada kain bersih.
  • Sekarang yang perlu anda lakukan adalah untuk menjaga daun ini di tempat yang gelap dan kering selama sekitar satu minggu lebih untuk dikeringkan.
  • Setelah benar-benar kering, seduh dalam air mendidih untuk membuat teh
Jika ingin yang lebih instan, bisa langsung mengonsumsi dari produk kemasan teh yang banyak dijual.

Sumber

A.M.

Minggu, 09 April 2017

Inkonsistensi Mainstream Tentang ARV Terhadap CD4

Menurut doktrin mainstream, terapi ARV (antiretroviral) dapat menaikan CD4 seseorang, dimana CD4 adalah angka untuk menunjukan imunitas orang tervonis HIV. Kata mereka, ARV bisa menekan virus HIV yang "memakan" imunitas, bila HIV ditekan maka imunitas atau CD4 akan naik dan jika tidak minum ARV maka CD4 akan drop karena HIV menghabisi imunitas.  bahkan bila CD4 dibawah 200 maka sudah bisa dikatakan sudah memasuki tahap AIDS.

Namun, ketika ada kasus orang yang rajin minum ARV lalu setelah dipantau ternyata CD4nya makin turun bukannya naik, mereka akan banyak berdalih, dengan alasan:
- "CD4 bukan patokan, karena dipengaruhi stress. kalau bahagia maka CD4 naik, bila stress maka CD4 turun."
- "yang penting viral load-nya undetectable, CD4 ga ngaruh, orang negatif saja CD4 nya naik turun"

screeenshot yang diambil dari diskusi di grup mainstream

Bila mereka bilang CD4 itu dipengaruhi tingkat stress, berarti imunitas naik turun bukan karena HIV, tapi karena stress. jadi untuk apa terapi ARV bila imunitas bisa ditingkatkan dengan menghindari stress? 

Lalu katanya lagi, angka CD4 tidak ada pengaruh dan bukan patokan imunitas sesungguhnya, lalu KENAPA masih perlu cek CD4 berkala dan menghabiskan uang dan tenaga?

Apakah sahabat tahu, bila perhitungan CD4 sebetulnya memang SANGAT SANGAT RELATIF?

Silakan anda buktikan sendiri, dalam 1 hari, anda lakukan tes CD4 di dua tempat berbeda, kami jamin, hasilnya akan jauh berbeda. bahkan ada yang pernah mencoba, di tempat A, dia mendapat angka 800an, di tempat B, hasilnya jeblok 120an, padahal itu di hari yang sama.

BILA mainstream saja sudah TIDAK KONSISTEN dengan perhitungan angka CD4 yang kata mereka menunjukan imunitas, haruskah kita percaya bahwa ARV meningkatkan imunitas?
BILA mainstream saja sudah mengatakan bahwa imunitas dipengaruhi tingkat stress, kenapa anda masih menenggak ARV? Seperti yang MAHA STAR kampanyekan, berdasarkan banyak sumber ilmiah, penurunan imunitas disebabkan banyak hal seperti stress, makanan dan gaya hidup tidak sehat, juga konsumsi obat-obatan. dengan melakukan perubahan gaya hidup dan pula makan, dan mengurangi tingkat stress, artinya anda sudah melakukan perbaikan imunitas. lalu untuk apa anda masih menelan racun yang mainstream sendiri tidak yakin apakah racun tersebut bisa menaikan imunitas?

Bangkit bersama MAHA STAR

A.S.

Sabtu, 01 April 2017

MAHA STAR Menjadi Bagian dari RETHINKING AIDS

Siapa yang tidak tau RETHINKING AIDS (RA), grup antimainstream internasional yang juga memiliki tujuan yang sama dengan MAHA STAR (MS) yaitu menyangkal, mengkritisi, dan menentang teori HIV/AIDS yang berkembang sekarang, juga terapi ARV yang terbukti memberikan efek samping seperti AIDS itu sendiri.

RA berdiri tahun 1991 setelah Dr. Peter Duesberg, ahli biologi sel dan molekuler mengkritisi doktrin bahwa HIV menyebabkan AIDS, terinspirasi dari fakta itu, ternyata banyak pakar medis yang juga sepakat dengan Duesberg, lalu mereka membentuk sebuah grup "The Group for the Scientific Reappraisal of the HIV/AIDS Hypothesis" yang sekarang berkembang menjadi Rethinking AIDS.
Hingga saat ini, RA sudah berkembang pesat menjadi asosiasi dari banyak pakar medis, akademis, aktivis HAM, dan jurnalis professional yang menentang doktrin HIV, AIDS, ARV. 
Komite RA pun terdiri dari ahli kedokteran, medis dan sains seperti ahli penyakit menular dari Inggris, professor kimia dari Amerika, pakar ilmu kandungan dari Jerman, bahkan jurnalis professional penerima award. daftar jajaran utama dan komite pendukung RA bisa dilihat disini.

Ajakan pada MAHA STAR
Beberapa hari setelah peringatan anniversary MS yang pertama bulan februari lalu, sebuah undangan  langsung dari presiden RA, David Crowe, mengajak MS menjadi satu dari banyak cabang RA yang tersebar diseluruh dunia. 

Kenapa harus MS? Menurutnya, MS adalah grup antimainstream dengan jumlah anggota terbanyak di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, dia kagum dengan jumlah lebih dari 50 ribu orang hanya dari Indonesia saja dan bisa memediasi banyak diskusi rutin dan hidup setiap harinya. Dia pun salut dengan cara MS bergerak, yaitu dengan berinovasi menggunakan pendekatan teknologi digital yang bisa menjangkau banyak orang. hal seperti itu pun dilakukan oleh RA, namun publikasi RA sudah lebih maju dengan adanya jadwal publikasi radio rutin, juga press release untuk media ternama seperti CNN atau BBC. list press release yang pernah diterbitkan RA bisa dilihat disini.

Selain Indonesia, MAHA STAR juga diharapkan menjadi komunitas yang bisa merangkul para rethinker dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapore, Brunei, Filipina, dan Thailand.
Saat ini, diantara banyak negara dalam daftar cabang RA, negara Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang memiliki cabang RA, dan itu diwakili MAHA STAR.

Manfaat bagi MAHA STAR
Lalu, apa manfaatnya bagi MAHA STAR bila bergabung dengan Rethinking AIDS?
dalam nota ke sepahaman, MAHA STAR bisa menggunakan berbagai publikasi RA sebagai sumber MS, MS juga punya kesempatan besar untuk berkomunikasi langsung dengan pakar medis dan akademis bidang kedokteran sebagai supporting committee professional untuk mendukung pergerakan MS dari sisi medis (apalagi, pakar medis di Indonesia masih cari aman dengan menelan mentah2 doktrin HIV), bahkan MS berhak mendapat publikasi secara internasional, baik itu disematkan di web RA, maupun pada publikasi lainnya.
Berikut adalah screenshot dari website RA, dimana MS disematkan dalam webnya:



Tampilan utama website RA bisa dilihat langsung disini.

Dengan makin melebarnya MAHA STAR membentangkan sayapnya ke kancah internasional, maka akan makin maju pula perkembangan MS kedepannya. Kalau mainstream disuapi dana dari donasi global fund dan menguras dana APBN negara yang mereka hamburkan untuk bagi-bagi kondom berkedok program VCT, maka MS akan disupport dengan sumberdaya ilmu dari pakar medis dari banyak negara, penguatan dan visibilitas lebih luas, guna berkontribusi pada para member agar selalu sehat dan paham terhadap isu-isu HIV/AIDS yang sebenarnya, sehingga cita-cita utama MS, yaitu hilangnya stigma dan diskriminasi pada isu ini bisa benar-benar tercapai.

Bangkit bersama MAHA STAR!

A.S.

Jumat, 31 Maret 2017

VCT Wajib dan Tanpa Persetujuan: Apa, Mengapa, & Bagaimana


VCT atau Voluntary Consulting and Testing adalah suatu cara yang selama ini dipakai dalam pemeriksaan antibodi untuk infeksi HIV. Dari namanya, terlihat aman dan baik ya?

namun pada kenyataan realnya, banyak kelemahan-kelamahan dalam VCT ini.

Selain VCT ini ternyata tidak ada standar baku di seluruh dunia dan hasilnya tidak valid (bisa menghasilkan positif/negatif palsu & intermediete/tidak jelas) [baca: VCT Ternyata Tidak Terstandar dan Tidak Valid], pelaksanaan VCT juga ternyata tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah, yaitu soal consent dan confidential. Bahkan, pelaksanaan tes HIV ini dalam kondisi tertentu menjadi kewajiban dan persyaratan bagi sebagian orang. Hal itu tidak bs dibenarkan karena hingga saat ini, HV masih mengundang stigma dan diskrimnasi bagi orang-orang yang distampel ODHA.

Banyak sahabat MAHA STAR yang bertanya apakah mereka akan mengalami tes HIV tanpa pemberitahuan? atau apakah mereka akan diwajibkan tes HIV sebagai suatu syarat?
disini MAHA STAR akan coba untuk mengupasnya.

VCT Tanpa Consent (Persetujuan) 
Banyak curhatan sahabat-sahabat MS di grup bahwa mereka diam-diam diambil darahnya ketika di opname di RS, di periksa antibodi HIVnya, dan dibocorkan pada orang tua atau pun wali yang menjaga di RS. Atau bahkan, dipaksa setuju untuk melakukan tes HIV dan minum ARV, atau diancam tidak akan mendapatkan layanan kesehatan. Hal ini tidak dibenarkan bahkan melanggar peraturan menteri.

Dalam peraturan menteri kesehatan no. 74 tahun 2014 jelas disebutkan bahwa pelaksanaan tes HIV harus mendapat persetujuan dari individu yang bersangkutan, kecuali bagi anak dan remaja di bawah 18 tahun, informed-consent diberikan oleh orang tua atau walinya, namun mereka tetap berhak untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan kemampuan umurnya.

Bahkan bagi pasien dalam kondisi kritis (adanya penurunan kesadaran) pun, tidak dibenarkan dilakukan tes HIV tanpa persetujuan yang bersangkutan. Pemberian informed consent sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,

Untuk pasien TB, dalam peraturan tersebut tertulis: "kepadapasien TB diberikan informasi HIV dan jika pasien setuju untuk dilakukan tes HIV selanjutnya akan dilakukan tes, namun bilamana pasien TB menolak untuk dilakukan tes HIV, maka pasien TB harus menandatangani surat penolakan tes HIV, selanjutnya petugas TB merujuk ke konselor untuk dilakukan konseling dan tes HIV."

Peraturan menteri kesehatan no. 74 tahun 2014 lengkapnya bisa di download disini.

Lalu apa yang harus dilakukan bila anda diopname dengan penyakit infeksi (typus, hepatitis, TB)?
Bila anda tidak mau darah anda dites HIVnya, maka ketika perawat akan mengambil darah anda pastikan apa saja yang akan dicek di lab. Bila perlu, minta lah surat persetujuan pengambilan darah dan jenis pemeriksaan lab yang akan dilakukan, baca baik-baik klausulnya, anda berhak untuk tidak menandatangani surat tersebut bila hal-hal di dalamnya kurang jelas.
Bila anda tidak sadarkan diri, sebetulnya anda tetap berhak penuh untuk memberikan consent, bila petugas medis terlanjur mengambil darah anda, melakukan pemeriksaan lab, anda tetap perlu bertanya, tes apa yang dilakukan terhadap darah anda. anda berhak marah atas kelancangan petugas medis yang diam-diam mengambil darah anda, meski dengan alasan persetujuan orang tua, karena ingatlah, meskipun dalam kondisi tidak sadar, anda berhak memberi consent sebelum dilakukan penangan medis, lagipula, petugas medis tidak bisa memberikan alasan urgent, karena tes HIV bukan kondisi emergency seperti kecelakaan atau gagal jantung. yang perlu ditangani adalah infeksinya (TB, hepatitis, typus), bukan HIVnya. Petugas medis tetap bisa menangani penyakit infeksi tanpa harus tau status HIV anda.

Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran, sebagai dasar hukum lengkapnya bisa di download disini

VCT Wajib atau Sebagai Persyaratan
Selain VCT tanpa persetujuan, ada juga sahabat yang bertanya apakah pengecekan HIV ini boleh atau bisa dilakukan untuk memenuhi suatu persyaratan?
Secara etis, tidak boleh memasukan tes HIV sebagai kewajiban atau persyaratan tertentu, namun kenyataanya masih banyak yang mewajibkan tes HIV dan mensyaratkan untuk tujuan tertentu.

VCT wajib biasanya disyaratkan untuk:

  1. Tes di lingkungan TNI dan POLRI, bahkan PNS di beberapa instansi (seperti kemenkumham) dan BUMN tertentu. biasanya sebagai rekrutmen, sebelum dan setelah tugas, dan pemeriksaan berkala. TNI, POLRI, atau pegawai yang terdeteksi HIV dinyatakan sebagai unfit/tidak sehat
  2. Tes di lingkungan LAPAS dan rumah tahanan. meski sifatnya adalah penawaran, namun untuk tahanan yang memiliki resiko tinggi  akan diwajibkan untuk menajalani tes
  3. Tes bagi calon TKI (Tenaga Kerja Indonesia), ini diwajibkan oleh negara sebelum berangkat, calon TKI yang terdeteksi HIV dinyatakan sebagai unfit/tidak sehat
  4. Persyaratan beasiswa, meski tidak etis dan tidak sesuai dengan hak asasi manusia, banyak penyedia beasiswa mensyaratkan calon penerimanya untuk bebas HIV, diantaranya beasiswa erasmus mundus dari europe union, dan juga LPDP [baca: LPDP Diskriminasi pada ODHA]. padahal, tidak ada hubungannya antara HIV dan intelegensi seseorang, dengan nutrsi dan pola hidup yang baik pun, tervonis HIV bisa hidup sehat dan bugar tanpa kendala.
  5. Persyaratan visa negara tertentu. Beberapa negara mensyaratkan bebas HIV bagi pelamar visa yang ingin masuk ke negaranya. beberapa hanya mensyaratkan bagi pelamar permanent visa, atau resident visa (tinggal lebih dari 3 bulan), namun ada pula yang mensyaratkan untuk visa kunjugan turis. negara-negara yang mensyaratkan HIV utk resident/student visa diantaranya Australia, Singapore, dll. untuk visa kunjungan/turis,negara yang mensyaratkan tes HIV diantaranya Uni Emirat Arab, Iran, Arab Saudi dan negara-negara di timur tengah. informasi visa ke negara-negara yang mensyaratkan tes  HIV bisa dicek di: hivtravel.org
VCT wajib tidak boleh dilakukan untuk:

  1. Syarat melamar pekerjaan dan syarat kenaikan jabatan
  2. Syarat menikah (pre-marital) oleh KUA setempat

Apakah medical check up yang rutin dilaksanakan di tempat kerja ada tes HIV? seharusnya tidak ada, kalau pun ada, harus mendapat persetujuan individu, dan hasilnya pun hanya boleh diberikan pada individu tersebut, tidak boleh menjadi alasan untuk naik jabatan, atau memecat karyawan hanya karena status HIVnya

Semua tertuang dalam permenkes No. 21 tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV/AIDS. tidak boleh ada diskriminasi bagi pengidap HIV. lengkapnya bisa di download disini.

Kerahasiaan (Confidentiality) Tervonis HIV
Menurut peraturan menteri kesehatan, data-data dan status dari orang-orang yang divonis HIV adalah rahasia. namun realnya, justru petugas medis dan konselor lah yang sering membongkar dan membocorkan rahasia status HIV pasiennya. mereka berkelit dan beralasan untuk kebaikan pasien. Misalnya mereka dengan lancang membocorkan kepada sesama perawat (dengan alasan tindak preventif), kepada keluarga pasien (dengan alasan agar bisa dipantau kesehatannya), kepada pasangan pasien (dengan alasan agar tidak menulari), kepada atasan tempat pasien bekerja (dengan alasan agar pasien dapat support moral). hal-hal tersebut NYATA terjadi dan dikeluhkan banyak sahabat MAHA STAR. 
Bahkan ternyata, data-data anda sebenarnya tidak 100% rahasia!
Ketika VCT, anda diminta untuk menyertakan kartu identitas bukan? Data-data pribadi anda sebenarnya diambil untuk kemudian dijadikan database oleh kementerian kesehatan. 
Silakan lihat skema yang diambil dari permenkes no 74 thn 2014 ini:


Semua data2 identitas, rekam medis anda dimasukan ke aplikasi negara bernama SIHA (Sistem Informasi HIV AIDS), sistem ini memiliki server pusat dan dapat diakses secara online oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Jadi, hasil tes anda akan dibuat laporan oleh para PL atau konselor yang keukeuh meminta-minta pada anda agar anda mau VCT, setor ke KPA untuk kemudian diinput ke SIHA, lalu data status HIV anda masuk ke dinas kesehatan tingkat provinsi, kota hingga kabupaten. anda mungkin bisa kapan saja dihubungi (bahkan didatangi) oleh KPA, konselor, dll. Parahnya, tidak akan ada lagi kesempatan anda mencoba validitas VCT karena data anda sudah masuk sistem online. jadi bila anda sudah tes di jakarta, iseng tes di balikpapan, kemungkinan besar hasil tes anda akan tetap reaktif.
Jadi, benarkah VCT menjamin kerahasiaan data anda? tentu tidak!

Jadi, inilah kenapa MAHA STAR mengkritisi sistem VCT di negeri ini, dan sangat tidak merekomendasi anda utk VCT. Selalu kritislah terhadap semua kebijakan terutama terkait HIV/AIDS.

Bangkit bersama MAHA STAR!

A.S.

Kamis, 09 Maret 2017

Koma karena efek samping ARV

Dulu aku koma di RS gara gara epek ARV.

Tak seharus nya aku menyalahkan LSM, krna ini kebodohan ku.
Dan tak seharus nya aku menyalahkan ARV krna itu juga kebodohan ku.
Andai aku pintar pasti aku gak akan mau di ajak LSM buat VCT.
Dan andai aja aku pintar pasti ku tolak itu ARV.
Padahal udah jelas bnyak pasien di ruangan Dokter yg udah mengonsumsi ARV dan mereka udah lama mengonsumsi ARV nya. Itu wajah mereka pada hitam. Kulit nya pada gosong bahkan ada yg di kursi roda ada juga yg udah lupa ingatan kondisi nya parah wajah nya gosong.
Pasti itu epek dari ARV. Sebab aku tanya sama pasien yg kulit nya sedikit loreng kata nya dulu warna kulit baik baik aja gak loreng loreng kya macan tutul. Tp skrg jadi loreng loreng.
Oh Tuhan maafkan hamba. Jadi kepikiran dgn mereka yg udh parah...


Payudara Pria Membesar. Dokter baru mengakui itu efek samping ARV, setelah pasien komplain krn dpt ilmu dari MAHA STAR

Tgl 25 Januari 2015 aku ikut test VCT di.sebuah puskesmas atas saran dari seseorg yg LSM ..wktu itu hr minggu..berbarengan dgn aku cek kutil kelamin wktu itu...seminggu kemudian aku ke puskesmas utk mengetahui hasilnya...dan aku dinyatakan POSITIF...kemudian mrka menyarankan aku utk CD4 ...cuma wktu itu aku blm menjalankannya...setelah divonis itu aku masih konsumsi habbat krna kebiasaanku..dan berat badanku bertambah terus sampai 62 kg...
3 bln dr aku VCT aku ajak istri VCT juga dan hasilnya Negatif ktnya....dan di bln mei 2015 aku CD4 hasilnya sel darah putihku cuma 156 kl gak salah.( disebuah RSUD )..aku disuruh rogten paru2 utk mengetahui aku kena tbc atau gak...ternyata aku bersih dr tbc. .kemudian 2 minggu sblm lebaran di 2015 itu..aku lupa blnnya...aku mulai di kasih obat ARV...astagfirullah efeknya aku kaya org linglung...aku konsul ke dokternya ktnya emang begitu efeknya tp gak lama cuma seminggu.  dan aku di suruh beli obat anti mual wktu itu....tp nafsu makan ku langsung drastis turun..bb pun perlahan2 turun sampai 54 kg wktu itu...tp aku tetap melanjutkan ARV ..kt dokter ARV itu satu2 obat utk melawan VIRUS HIV walaupun tdk menghilangkan...ktnya cuma membuat virus tak berkembang...dan diakhir 2016 kmrn aku mulai merasakan efek lain...payudara membesar...Aji kira kanker..tp setelah aku konsul ke Tgl umum ktnya bukan...terus aku ketemu group maha ini...aku baca sebuah artikel..dan ternyata itu efek dari ARV...aku ty ke dokter yg di RSUD kmrn akhir Februari dan dia mengakui bahwa itu efek dr ARV...mknya aku putuskan utk berhenti ARV di awal Maret ini..



Jutaan Rupiah melayang & kesehatan menurun setelah dipaksa minum ARV


2016 -02-19 saya di nyatakan positif hiv
Semenjak itu saya menjadi setres dan mengurung diri, sampai akhir nya saya kehilangan pekerjaan,
Semua harta benda, sudah terjual karna berobat ke dokter
Di rujuk kesana,  dirujuk kesini,  jumpa dokter sana dan dokter sini, tes hiv sampe 3x ,  saya hitung2 jutaan uang saya yang sudah saya keluarkan
Dan di paksa konsumsi arv, pertama saya minum,  saya merasa kehilangan akal,  dan ilusi,
1minggu badan saya masih lemes, mual, muntah, demam, saya pergi ke dokter lagi,  dan dikatakan nya itu BAGUS,,,  karna obat nya berpungsi dan lancar
Dan saya stop arv 1 january 2017,
Mengapa saya stop arv?   Karna badan saya semakin kurus, dan gampang demam,  kena hujan, demam, kecapekan, demam,  dikit2 demam,
Semenjak saya stop arv,  sudah jalan 3 bulan saya sehat tanpa beban,
 Dan saya latakan SELAMAT tinggal arv 💩
Sekarang saya sedang berusaha membujuk teman sebaya saya,  karna sangat banyak temen2 odha saya masih minum arv,  sampai sekarang,
Saya kasihan sama mereka,  saya ingin mereka mengikuti jejak saya,  agar temen saya bebas arv
Saya juga kasihan,  melihat mereka,  karna pekerjaan nya terganggu,  dengan acara perkumpulan setiap minggu (odha)
Dan saya minta saran nya sama kakak/abang disini!!!
 Bagai mana caranya meningkatkan berat badan tanpa obat2an bahan kimia
Tolong kasih info nya ya semua 😭

Sekali lagi saya katakan  rugi, gara2  arv,
Jabatan saya hilang, dan harta benda sudah terjual

Salam satu nasif 😍😘😘




Rabu, 08 Maret 2017

Eksistensi HIV, Ada atau Tidak?


Dari sekian banyak topik diskusi, pertanyaan "jadi apakah virus yang disebut HIV itu ada atau tidak?" adalah pertanyaan yang sering muncul, well, kami disini coba runutkan.

Kami sarankan, anda baca tulisan ini secara runut dari awal hingga akhir tanpa skip untuk mengkonstruksikan logika anda, jangan biasakan menjadi manusia yang ingin instan, ketika bertanya harus segera dijawab.

Sebelum ke jawaban, anda harus tahu terlebih dulu hakikat sains/ ilmu pengetahuan.
perkembangan ilmu pengetahuan dan fakta-faktanya tidak akan pernah mencapai kepastian, artinya dalam ilmu pengetahuan/sains tidak ada titik akhir.
loh kenapa? karena fakta ilmiah terus bertambah, terus berkembang, terus maju tanpa batas, tanpa ada hasil akhir.

Dalam metode ilmiah (Scientific method), semua fakta berawal dari bertanya (inquire), lalu berhipotesis, mengobservasi, Menyimpulkan, mengevaluasi hasil lalu dari hasil akan muncul kembali banyak pertanyaan. begitu seterusnya proses saintifik berlangsung, tanpa titik akhir.

Ingat pro dan kontra dalam fakta ilmiah dan faham di dunia?
evolusi vs kreasi, pro-vaksin vs anti-vaks, bumi bulat vs bumi datar, kapitalis vs sosialis, demokrasi vs komunis, climate change believer vs climate change denialist.
kenapa bisa ada pro dan kontra? karena manusia melakukan scientific method sendiri.

Ingat perkembangan ilmu yang pernah terjadi di dunia?
geosentris (bumi pusat tata surya) menjadi heliosentris (matahari pusat tata surya).
dulu geosentris diterima luas di masyarakat dan menjadi fakta ilmiah dikalangan scholar, orang-orang yang menentangnya dianggap sesat oleh gereja bahkan dihukum mati oleh kerajaan, setelah ditemukan telescope fakta yang dulu dianggap sesat -- yaitu heliosentris, sekarang diterima secara luas dan menjadi fakta ilmiah.

Contoh lain adalah death plague abad pertengahan, sebelum ditemukannya antibiotik, death plague dianggap sebagai kutukan, guna-guna oleh penyihir bahkan wanita-wanita yang dituduh tukang sihir dibakar hidup-hidup.

kenapa fakta ilmiah bisa berubah seperti itu? karena ilmu berkembang ke arah yang tidak disangka-sangka. tidak ada kata absolut untuk fakta ilmiah.
sekarang HIV disebut sebagai mightiest virus in the world yang belum bisa dimusnahkan dan tidak ada obatnya, tentu menurut filsafat ilmu, pernyataan ini bersifat RELATIF dan TIDAK PASTI/TIDAK ABSOLUT, selalu dan pasti ada fakta lain yang belum diketahui.

Jadi, ketika anda ngotot ingin jawaban pasti, anda harus camkan bahwa, fakta ilmiah itu relatif dan tidak absolut. Semua fakta ilmiah yang beredar sekarang suatu saat nanti akan berkembang, mungkin dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka.

Kembali ke inti pertanyaan, apakah virus HIV ada atau tidak?
jawabannya: ada dan tidak ada.

Yuk, kita flashback ke beberapa tahun lalu ketika kasus HIV/AIDS ini mulai muncul.
tahun 1982, Luc Montagnier seorang ahli virologi dari Pasteur Institute di Perancis diminta untuk meneliti sebuah kasus penyakit yang pada waktu itu diberi nama GRID (Gay Related immune Deficiency), kemudian objek seluler yang saat ini disebut HIV ditemukan oleh Luc Montagnier dan diberi nama LAV (lymphadenopathy-associated virus).
Pada waktu yang tidak terlalu jauh, tim peneliti dari Amerika yang dipimpin oleh Roberto Gallo di National Cancer Institute juga meneliti spesimen dari Luc dan memberi nama HTLV-III (human T-lymphotropic virus type III) 

Karena LAV (temuan Luc) dan HTLV (temuan Gallo) berasal dari spesimen yang sama maka saat itu temuan mereka diberi nama HIV (Human Immunodeficiency Virus) sebagai jawaban dari kasus GRID dimana imunitas pasien turun. Roberto Gallo kemudian mengklaim bahwa virus HIV menyebabkan AIDS dan doktrin ini diterima begitu saja oleh masyarakat dan diamini oleh komunitas kedokteran yang segera mengujicoba sebuah obat dari perusahaan farmasi yang katanya dapat mengendalikan perkembangan virus, obat ini disebut antiretroviral (ARV), pada saat itu dikenal sebagai AZT (Zidovudine).

Tahun 1990an terbongkar bahwa Roberto Gallo melakukan pemalsuan dalam klaim isolasi HIV, sebuah nota yang ditemukan di National Cancer Institute menyatakan bahwa objek yang diberi nama HTLV-III oleh Gallo tak lain dan tak bukan hanya sekumpulan objek sampah sisa dari sel-sel yang rusak (baca: Bukti Penipuan Roberto Gallo atas Klaim Isolasi HIV) maka secara langsung, Luc Montagnier didaulat sebagai penemu HIV yang kemudian dianugrahi penghargaan nobel bidang kedokteran dan fisiologi atas temuannya pada LAV (yang sekarang diberi nama HIV).

Luc Montagnier dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa sebenarnya virus HIV tidak berbahaya dan dapat dihilangkan dengan perbaikan nutrisi, dan justru kondisi AIDS yang ditakuti itu sebenarnya karena tertekannya imunitas akibat asupan makanan yang salah, termasuk akibat dari keracunan obat AIDS itu sendiri, yaitu ARV. (Baca: Wawancara Luc Montagnier: HIV dapat Sembuh dengan Perbaikan Nutrisi)

Foto saat Luc Montagnier mendapat penghargaan Nobel bidang kedokteran dan fisiologi tahun 2008 atas temuan LAV (yang sekarang disebut HIV)

Namun dunia sudah terlanjur menerima doktrin bahwa HIV menyebabkan AIDS, dimana perusahaan-perusahaan obat sudah terlanjur memproduksi massal dan memasarkan ARV ke seleuruh dunia, dimana yayasan-yayasan sudah terlanjur menerima donasi untuk penanggulangan AIDS, dimana pakar-pakar medis sudah terlanjur menyetujui secara konsensus doktrin bahwa HIV menyebabkan AIDS dan mengadakan seminar-seminar ilmiah bernilai jutaan dollar.
Mengungkap fakta bahwa ternyata HIV tidak menyebabkan AIDS berakibat pada hilangnya miliaran dollar tiap tahun yang didapat oleh perusahaan farmasi, tutupnya yayasan-yayasan penerima donasi AIDS, rusaknya kredibilitas dokter-dokter yang pernah menyetujui konsensus. seperti lingkaran setan, fakta ini ditutup-tutupi dan bahkan disebut sebagai pseudoscience (sains palsu).

Setelah fakta itu terungkap, banyak pakar-pakar medis mulai bersuara dan menentang doktrin sesat bahwa HIV menyebabkan AIDS, salah satunya Peter Duesberg, ahli biologi yang menentang bahwa HIV menyebabkan AIDS dalam bukunya Inventing AIDS Virus.

Senada dengan Duesberg, seorang ahli biokimia penemu teknik PCR (Polimerase Chain Reaction) dan peraih penghargaan nobel bidang kimia, Kary Mullis, menyatakan bahwa HIV tidak menyebabkan AIDS, dan bahkan dengan lantang menyatakan bahwa HIV itu sebenarnya hanya sebuah objek yang terdeteksi oleh pembacaan antibodi untuk membenarkan AIDS, yang artinya, virus HIV itu sebetulnya tidak ada dan hanya reaksi antibodi belaka.

Foto Kary Mullis saat setelah menerima penghargaan Nobel bidang kimia atas temuan PCR

Jadi, ketika muncul pertanyaan, apakah HIV itu ada atau tidak?
Berdasarkan paparan Luc Montagnier (penemu HIV & penerima nobel kedokteran), HIV itu ada, namun tidak menyebabkan AIDS bahkan dapat dihilangkan dengan perbaikan asupan nutrisi yang baik.
Berdasarkan paparan Kary Mullis (penemu PCR & penerima nobel kimia), HIV itu hanyalah objek belaka yang bereaksi pada pemeriksaan antibodi, patut diragukan eksistensinya.

Bahkan, fakta ilmiah mulai berkembang dan membuktikan bahwa, justru kondisi AIDS adalah reaksi dari penggunaan kimia berat yang terkandung dalam obat ARV seiiring dengan mulai bermunculannya orang-orang yang sehat bertahun-tahun setelah divonis mengidap HIV namun tanpa pernah menelan ARV.

Jadi, ini lah kenapa gerakan MAHA STAR diilhami oleh dua ilmuan yang keduanya menerima penghargaan nobel. Kami menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi yaitu:
HIV ada namun tidak menyebabkan AIDS, bahkan karena HIV dijadikan pembenaran, sudah saatnya mempertanyakan kembali, benarkah HIV ini seperti yang sekarang digembar-gemborkan? atau memang hanya sebuah objek seluler belaka?

Jawaban apapaun yang anda pilih semua itu bergantung pada nalar berpikir kritis anda dan akan mempengaruhi semua tindakan yang akan anda lakukan berikutnya.

Luc Montagnier, sang penemu HIV, penerima nobel kedokteran, menyatakan bahwa yang paling penting adalah perbaiki asupan nutrisi anda, kualitas air anda, gaya hidup sehat anda dan minimalisir tingkat stress dan kimia buatan berbahaya dalam tubuh anda. Bila anda yakin dengan fakta ilmiah ini, maka rubah lah gaya hidup anda menjadi lebih positif.

Bangkit dan Sehat bersama MAHA STAR!

A.S.