Ayo Bergabung!

Selasa, 18 April 2017

Konsumsi Daun Kelor? Ternyata Banyak Manfaatnya!

Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman dengan daun berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai, dan merupakan tanaman herbal dengan banyak penggunaan yang digunakan sebagai makanan dan sebagai pengobatan alternatif di seluruh dunia. Daun kelor telah diidentifikasi oleh para peneliti sebagai tumbuhan dengan banyak manfaat kesehatan termasuk nutrisinya dan manfaat untuk pengobatan. Berikut manfaat dari daun kelor :

Kaya Akan Nutrisi

Pengunaan Daun Kelor dalam dunia medis telah diklaim banyak komunitas berdasarkan pengalaman dan sekarang lambat laun dikonfirmasi oleh science. Daun Kelor dipercaya merupakan sumber dari vitamin c, kalsium, beta karoten, potassium dan protein. Daun Kelor merupakan sumber natural antioksidan karena memiliki kandungan flavonoids, ascorbic acid, carotenoids, and phenolics. 
Kandungan nutrisi Daun Kelor dalam satu cangkir dan daun yang dihaluskan (21 gram) mengandung:
Protein: 2 grams.
Vitamin B6: 19% of the RDA.
Vitamin C: 12% of the RDA.
Iron: 11% of the RDA.
Riboflavin (B2): 11% of the RDA.
Vitamin A (from beta-carotene): 9% of the RDA.
Magnesium: 8% of the RDA.
Note: RDA adalah recommended dietary allowance atau rekomendasi untuk diet harian

Penelitian juga mengungkapkan bahwa tiap bagian dari tumbuhan kelor, buah, biji, daun, bunga, kulit kayu, dan akarnya memiliki kandungan yang bermanfaat yang dapat membantu manusia. Dan sangat langka karena untuk sebuah tumbuhan yang memiliki banyak nutrisi penting dan yang lebik lagi dalam kuantitas yang tinggi. Daun Kelor sendiri memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan berbeda dibanding dengan yang ditemukan secara individual dalam beberapa jenis makanan dan sayuran.

Seperti yang kita ketahui, kebanyakan sayuran akan kehilangan nutrisi setelah dimasak. Namun penelitian mengungkakpkan bahwa daun kelor segar maupun yang sudah diolah menjadi bubuk, disimpan selama berbulan-bulan tanpa dimasukan ke kulkas tidak kehilangan nilai gizinya. Bahkan, daun yang dimasak di air mendidih menghasilkan 3 kali kandungan zat besi daripada daun segarnya.

Melindungi Dari Racun Arsenik
Makanan yang terkontaminasi arsenik merupakan masalah yang terdapat disekitar kita, dan beras merupakan makanan yang paling banyak mengandung arsenik. Walaupun kandungan arsenik tidak memperlihatkan gejala yang cepat, namun kontaminasi arsenik dalam jangka panjang dapat bebahaya. Studi melaporkan bahwa indikasi kontaminasi arsenik jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker dan penyakit jantung.

Beberapa penelitian pada tikus mengindikasikan bahwa Daun Kelor dapat melindungi dari kontaminasi jangka panjang racun arsenik.  Namun studi ini baru dilakukan pada hewan, belum dapat dipastikan apakah akan seefektif jika diberikan pada manusia, walaupun hasilnya sangat memuaskan.

Anti Inflamasi
Inflamasi adalah respon alami tubuh dalam menghadapai infeksi. Ini adalah mekanisme pertahanan tubuh yang penting, namun dapat menjadi masalah serius jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Inflamasi yang terus menerus dapat menjadi penyakit yang kronis termasuk penyakit liver dan bahkan kanker.
Daun kelor sudah banyak digunakan dalam dunia kesehatan, sepanjang dekade terakhir telah menyembuhkan banyak pernyakit akut dan kondisi kronis. Berdasarkan penelitian, daun kelor sangat efektif dalam penanganan inflamasi. Kandungan flavonols dan phenolic acid yang terkadung dalam Daun Kelor terkait dengan aktivitas anti inflamasi, anti oksidan, dan anti bakteri.

Anti mikroba
Bermacam-macam ekstrak tumbuhan Kelor dari mulai daun, biji, kulit kayu, akar dilaporkan memiliki potensi anti mikroba. Studi menunjukan bahwa ekstrak Daun Kelor memiliki potensi untuk mengatasi beberapa infeksi bakteri.


Melawan Radikal Bebas (Kaya Antioksidan)
Antioksidan melawan radikal bebas, molekul yang menyebabkan stres oksidatif, kerusakan sel, dan inflamasi. Polifenol adalah senyawa yang dapat mengurangi kerusakan akibat stres oksidatif pada jaringan tubuh. Sebuah penelitian melaporkan bahwa Daun Kelor memiliki kadar polifenol dengan jumlah yang tinggi. Dibanding bunga dan bijinya, Daun pada tumbuhan Kelor memiliki tingkat antioksidan yang lebih tinggi. 

Bahkan, satu studi pada wanita menemukan bahwa mengambil tujuh gram (1,5 sendok teh) ekstrak Daun Kelor bubuk setiap hari selama tiga bulan secara signifikan meningkatkan kadar antioksidan dalam darah.

Ekstrak Daun Kelor juga dapat digunakan sebagai pengawet makanan. Senyawa antioksidan dalam Daun Kelor dapat meningkatkan umur daging mentah dengan mengurangi oksidasi. Hal ini dibuktikan dengan penelitian pada beberapa ekor kambing. Kambing yang diberi suplementasi Daun Kelor menunjukan indikasi aktifitas antioksidan yang tinggi dibanding dengan kambing yang diberi supplementasi produk lain. 

Anti Kanker
Daun Kelor terbukti memiliki potensi pengobatan untuk melawan kanker, radang sendi, diabetes, dan beberapa penyakit. Penelitian mengungkapkan bahwa salah satu senyawa bioaktif dari Daun Kelor, niazimicin, memiliki peran sebagain inhibitor terhadap dua tahap pembentukan tumor pada tikus. Hasilnya, niazimicin menunjukan 50% penundaan dalam promosi tumor dan menurunkan aktifitas papilloma sebanyak 80% pada 10 minggu dan 17% pada 20 minggu promosi. Selain untuk menghalangi pertumbuhan tumor, senyawa niazimicin juga berkontribusi untuk efek anti karsinogenik.

Konsumsi Daun Kelor
Daun kelor dapat dimakan dari daun segar, dimasak atau dikeringkan. Daun Kelor dapat dikonsumsi seperti sayuran lainnya, karena Daun Kelor ini merupakan tumbuh yang sangat mudah diolah dan dikonsumsi. Daun kelor segar dapat digunakan dalam berbagai macam hidangan, atau dimasak sebagai sayuran seperti bayam. 
Selain dibuat menjadi masakan/sayuran, ternyata ada cara lain yang asik loh untuk mengonsumsi Daun Kelor.


Teh Herbal Daun Kelor
Cara membuat teh Daun Kelor :  
  • Pertama, cuci bersih beberapa Daun Kelor
  • Keringkan Daun Kelor .
  • Didihkan air, dan masukkan daun dalam panci mendidih. Masak sekitar 1 menit.
  • Saring airnya dan tempatkan daun yang sudah dimasak pada kain bersih.
  • Sekarang yang perlu anda lakukan adalah untuk menjaga daun ini di tempat yang gelap dan kering selama sekitar satu minggu lebih untuk dikeringkan.
  • Setelah benar-benar kering, seduh dalam air mendidih untuk membuat teh
Jika ingin yang lebih instan, bisa langsung mengonsumsi dari produk kemasan teh yang banyak dijual.

Sumber

A.M.

Minggu, 09 April 2017

Inkonsistensi Mainstream Tentang ARV Terhadap CD4

Menurut doktrin mainstream, terapi ARV (antiretroviral) dapat menaikan CD4 seseorang, dimana CD4 adalah angka untuk menunjukan imunitas orang tervonis HIV. Kata mereka, ARV bisa menekan virus HIV yang "memakan" imunitas, bila HIV ditekan maka imunitas atau CD4 akan naik dan jika tidak minum ARV maka CD4 akan drop karena HIV menghabisi imunitas.  bahkan bila CD4 dibawah 200 maka sudah bisa dikatakan sudah memasuki tahap AIDS.

Namun, ketika ada kasus orang yang rajin minum ARV lalu setelah dipantau ternyata CD4nya makin turun bukannya naik, mereka akan banyak berdalih, dengan alasan:
- "CD4 bukan patokan, karena dipengaruhi stress. kalau bahagia maka CD4 naik, bila stress maka CD4 turun."
- "yang penting viral load-nya undetectable, CD4 ga ngaruh, orang negatif saja CD4 nya naik turun"

screeenshot yang diambil dari diskusi di grup mainstream

Bila mereka bilang CD4 itu dipengaruhi tingkat stress, berarti imunitas naik turun bukan karena HIV, tapi karena stress. jadi untuk apa terapi ARV bila imunitas bisa ditingkatkan dengan menghindari stress? 

Lalu katanya lagi, angka CD4 tidak ada pengaruh dan bukan patokan imunitas sesungguhnya, lalu KENAPA masih perlu cek CD4 berkala dan menghabiskan uang dan tenaga?

Apakah sahabat tahu, bila perhitungan CD4 sebetulnya memang SANGAT SANGAT RELATIF?

Silakan anda buktikan sendiri, dalam 1 hari, anda lakukan tes CD4 di dua tempat berbeda, kami jamin, hasilnya akan jauh berbeda. bahkan ada yang pernah mencoba, di tempat A, dia mendapat angka 800an, di tempat B, hasilnya jeblok 120an, padahal itu di hari yang sama.

BILA mainstream saja sudah TIDAK KONSISTEN dengan perhitungan angka CD4 yang kata mereka menunjukan imunitas, haruskah kita percaya bahwa ARV meningkatkan imunitas?
BILA mainstream saja sudah mengatakan bahwa imunitas dipengaruhi tingkat stress, kenapa anda masih menenggak ARV? Seperti yang MAHA STAR kampanyekan, berdasarkan banyak sumber ilmiah, penurunan imunitas disebabkan banyak hal seperti stress, makanan dan gaya hidup tidak sehat, juga konsumsi obat-obatan. dengan melakukan perubahan gaya hidup dan pula makan, dan mengurangi tingkat stress, artinya anda sudah melakukan perbaikan imunitas. lalu untuk apa anda masih menelan racun yang mainstream sendiri tidak yakin apakah racun tersebut bisa menaikan imunitas?

Bangkit bersama MAHA STAR

A.S.

Sabtu, 01 April 2017

MAHA STAR Menjadi Bagian dari RETHINKING AIDS

Siapa yang tidak tau RETHINKING AIDS (RA), grup antimainstream internasional yang juga memiliki tujuan yang sama dengan MAHA STAR (MS) yaitu menyangkal, mengkritisi, dan menentang teori HIV/AIDS yang berkembang sekarang, juga terapi ARV yang terbukti memberikan efek samping seperti AIDS itu sendiri.

RA berdiri tahun 1991 setelah Dr. Peter Duesberg, ahli biologi sel dan molekuler mengkritisi doktrin bahwa HIV menyebabkan AIDS, terinspirasi dari fakta itu, ternyata banyak pakar medis yang juga sepakat dengan Duesberg, lalu mereka membentuk sebuah grup "The Group for the Scientific Reappraisal of the HIV/AIDS Hypothesis" yang sekarang berkembang menjadi Rethinking AIDS.
Hingga saat ini, RA sudah berkembang pesat menjadi asosiasi dari banyak pakar medis, akademis, aktivis HAM, dan jurnalis professional yang menentang doktrin HIV, AIDS, ARV. 
Komite RA pun terdiri dari ahli kedokteran, medis dan sains seperti ahli penyakit menular dari Inggris, professor kimia dari Amerika, pakar ilmu kandungan dari Jerman, bahkan jurnalis professional penerima award. daftar jajaran utama dan komite pendukung RA bisa dilihat disini.

Ajakan pada MAHA STAR
Beberapa hari setelah peringatan anniversary MS yang pertama bulan februari lalu, sebuah undangan  langsung dari presiden RA, David Crowe, mengajak MS menjadi satu dari banyak cabang RA yang tersebar diseluruh dunia. 

Kenapa harus MS? Menurutnya, MS adalah grup antimainstream dengan jumlah anggota terbanyak di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, dia kagum dengan jumlah lebih dari 50 ribu orang hanya dari Indonesia saja dan bisa memediasi banyak diskusi rutin dan hidup setiap harinya. Dia pun salut dengan cara MS bergerak, yaitu dengan berinovasi menggunakan pendekatan teknologi digital yang bisa menjangkau banyak orang. hal seperti itu pun dilakukan oleh RA, namun publikasi RA sudah lebih maju dengan adanya jadwal publikasi radio rutin, juga press release untuk media ternama seperti CNN atau BBC. list press release yang pernah diterbitkan RA bisa dilihat disini.

Selain Indonesia, MAHA STAR juga diharapkan menjadi komunitas yang bisa merangkul para rethinker dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapore, Brunei, Filipina, dan Thailand.
Saat ini, diantara banyak negara dalam daftar cabang RA, negara Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang memiliki cabang RA, dan itu diwakili MAHA STAR.

Manfaat bagi MAHA STAR
Lalu, apa manfaatnya bagi MAHA STAR bila bergabung dengan Rethinking AIDS?
dalam nota ke sepahaman, MAHA STAR bisa menggunakan berbagai publikasi RA sebagai sumber MS, MS juga punya kesempatan besar untuk berkomunikasi langsung dengan pakar medis dan akademis bidang kedokteran sebagai supporting committee professional untuk mendukung pergerakan MS dari sisi medis (apalagi, pakar medis di Indonesia masih cari aman dengan menelan mentah2 doktrin HIV), bahkan MS berhak mendapat publikasi secara internasional, baik itu disematkan di web RA, maupun pada publikasi lainnya.
Berikut adalah screenshot dari website RA, dimana MS disematkan dalam webnya:



Tampilan utama website RA bisa dilihat langsung disini.

Dengan makin melebarnya MAHA STAR membentangkan sayapnya ke kancah internasional, maka akan makin maju pula perkembangan MS kedepannya. Kalau mainstream disuapi dana dari donasi global fund dan menguras dana APBN negara yang mereka hamburkan untuk bagi-bagi kondom berkedok program VCT, maka MS akan disupport dengan sumberdaya ilmu dari pakar medis dari banyak negara, penguatan dan visibilitas lebih luas, guna berkontribusi pada para member agar selalu sehat dan paham terhadap isu-isu HIV/AIDS yang sebenarnya, sehingga cita-cita utama MS, yaitu hilangnya stigma dan diskriminasi pada isu ini bisa benar-benar tercapai.

Bangkit bersama MAHA STAR!

A.S.

Jumat, 31 Maret 2017

VCT Wajib dan Tanpa Persetujuan: Apa, Mengapa, & Bagaimana


VCT atau Voluntary Consulting and Testing adalah suatu cara yang selama ini dipakai dalam pemeriksaan antibodi untuk infeksi HIV. Dari namanya, terlihat aman dan baik ya?

namun pada kenyataan realnya, banyak kelemahan-kelamahan dalam VCT ini.

Selain VCT ini ternyata tidak ada standar baku di seluruh dunia dan hasilnya tidak valid (bisa menghasilkan positif/negatif palsu & intermediete/tidak jelas) [baca: VCT Ternyata Tidak Terstandar dan Tidak Valid], pelaksanaan VCT juga ternyata tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah, yaitu soal consent dan confidential. Bahkan, pelaksanaan tes HIV ini dalam kondisi tertentu menjadi kewajiban dan persyaratan bagi sebagian orang. Hal itu tidak bs dibenarkan karena hingga saat ini, HV masih mengundang stigma dan diskrimnasi bagi orang-orang yang distampel ODHA.

Banyak sahabat MAHA STAR yang bertanya apakah mereka akan mengalami tes HIV tanpa pemberitahuan? atau apakah mereka akan diwajibkan tes HIV sebagai suatu syarat?
disini MAHA STAR akan coba untuk mengupasnya.

VCT Tanpa Consent (Persetujuan) 
Banyak curhatan sahabat-sahabat MS di grup bahwa mereka diam-diam diambil darahnya ketika di opname di RS, di periksa antibodi HIVnya, dan dibocorkan pada orang tua atau pun wali yang menjaga di RS. Atau bahkan, dipaksa setuju untuk melakukan tes HIV dan minum ARV, atau diancam tidak akan mendapatkan layanan kesehatan. Hal ini tidak dibenarkan bahkan melanggar peraturan menteri.

Dalam peraturan menteri kesehatan no. 74 tahun 2014 jelas disebutkan bahwa pelaksanaan tes HIV harus mendapat persetujuan dari individu yang bersangkutan, kecuali bagi anak dan remaja di bawah 18 tahun, informed-consent diberikan oleh orang tua atau walinya, namun mereka tetap berhak untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan kemampuan umurnya.

Bahkan bagi pasien dalam kondisi kritis (adanya penurunan kesadaran) pun, tidak dibenarkan dilakukan tes HIV tanpa persetujuan yang bersangkutan. Pemberian informed consent sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,

Untuk pasien TB, dalam peraturan tersebut tertulis: "kepadapasien TB diberikan informasi HIV dan jika pasien setuju untuk dilakukan tes HIV selanjutnya akan dilakukan tes, namun bilamana pasien TB menolak untuk dilakukan tes HIV, maka pasien TB harus menandatangani surat penolakan tes HIV, selanjutnya petugas TB merujuk ke konselor untuk dilakukan konseling dan tes HIV."

Peraturan menteri kesehatan no. 74 tahun 2014 lengkapnya bisa di download disini.

Lalu apa yang harus dilakukan bila anda diopname dengan penyakit infeksi (typus, hepatitis, TB)?
Bila anda tidak mau darah anda dites HIVnya, maka ketika perawat akan mengambil darah anda pastikan apa saja yang akan dicek di lab. Bila perlu, minta lah surat persetujuan pengambilan darah dan jenis pemeriksaan lab yang akan dilakukan, baca baik-baik klausulnya, anda berhak untuk tidak menandatangani surat tersebut bila hal-hal di dalamnya kurang jelas.
Bila anda tidak sadarkan diri, sebetulnya anda tetap berhak penuh untuk memberikan consent, bila petugas medis terlanjur mengambil darah anda, melakukan pemeriksaan lab, anda tetap perlu bertanya, tes apa yang dilakukan terhadap darah anda. anda berhak marah atas kelancangan petugas medis yang diam-diam mengambil darah anda, meski dengan alasan persetujuan orang tua, karena ingatlah, meskipun dalam kondisi tidak sadar, anda berhak memberi consent sebelum dilakukan penangan medis, lagipula, petugas medis tidak bisa memberikan alasan urgent, karena tes HIV bukan kondisi emergency seperti kecelakaan atau gagal jantung. yang perlu ditangani adalah infeksinya (TB, hepatitis, typus), bukan HIVnya. Petugas medis tetap bisa menangani penyakit infeksi tanpa harus tau status HIV anda.

Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran, sebagai dasar hukum lengkapnya bisa di download disini

VCT Wajib atau Sebagai Persyaratan
Selain VCT tanpa persetujuan, ada juga sahabat yang bertanya apakah pengecekan HIV ini boleh atau bisa dilakukan untuk memenuhi suatu persyaratan?
Secara etis, tidak boleh memasukan tes HIV sebagai kewajiban atau persyaratan tertentu, namun kenyataanya masih banyak yang mewajibkan tes HIV dan mensyaratkan untuk tujuan tertentu.

VCT wajib biasanya disyaratkan untuk:

  1. Tes di lingkungan TNI dan POLRI, bahkan PNS di beberapa instansi (seperti kemenkumham) dan BUMN tertentu. biasanya sebagai rekrutmen, sebelum dan setelah tugas, dan pemeriksaan berkala. TNI, POLRI, atau pegawai yang terdeteksi HIV dinyatakan sebagai unfit/tidak sehat
  2. Tes di lingkungan LAPAS dan rumah tahanan. meski sifatnya adalah penawaran, namun untuk tahanan yang memiliki resiko tinggi  akan diwajibkan untuk menajalani tes
  3. Tes bagi calon TKI (Tenaga Kerja Indonesia), ini diwajibkan oleh negara sebelum berangkat, calon TKI yang terdeteksi HIV dinyatakan sebagai unfit/tidak sehat
  4. Persyaratan beasiswa, meski tidak etis dan tidak sesuai dengan hak asasi manusia, banyak penyedia beasiswa mensyaratkan calon penerimanya untuk bebas HIV, diantaranya beasiswa erasmus mundus dari europe union, dan juga LPDP [baca: LPDP Diskriminasi pada ODHA]. padahal, tidak ada hubungannya antara HIV dan intelegensi seseorang, dengan nutrsi dan pola hidup yang baik pun, tervonis HIV bisa hidup sehat dan bugar tanpa kendala.
  5. Persyaratan visa negara tertentu. Beberapa negara mensyaratkan bebas HIV bagi pelamar visa yang ingin masuk ke negaranya. beberapa hanya mensyaratkan bagi pelamar permanent visa, atau resident visa (tinggal lebih dari 3 bulan), namun ada pula yang mensyaratkan untuk visa kunjugan turis. negara-negara yang mensyaratkan HIV utk resident/student visa diantaranya Australia, Singapore, dll. untuk visa kunjungan/turis,negara yang mensyaratkan tes HIV diantaranya Uni Emirat Arab, Iran, Arab Saudi dan negara-negara di timur tengah. informasi visa ke negara-negara yang mensyaratkan tes  HIV bisa dicek di: hivtravel.org
VCT wajib tidak boleh dilakukan untuk:

  1. Syarat melamar pekerjaan dan syarat kenaikan jabatan
  2. Syarat menikah (pre-marital) oleh KUA setempat

Apakah medical check up yang rutin dilaksanakan di tempat kerja ada tes HIV? seharusnya tidak ada, kalau pun ada, harus mendapat persetujuan individu, dan hasilnya pun hanya boleh diberikan pada individu tersebut, tidak boleh menjadi alasan untuk naik jabatan, atau memecat karyawan hanya karena status HIVnya

Semua tertuang dalam permenkes No. 21 tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV/AIDS. tidak boleh ada diskriminasi bagi pengidap HIV. lengkapnya bisa di download disini.

Kerahasiaan (Confidentiality) Tervonis HIV
Menurut peraturan menteri kesehatan, data-data dan status dari orang-orang yang divonis HIV adalah rahasia. namun realnya, justru petugas medis dan konselor lah yang sering membongkar dan membocorkan rahasia status HIV pasiennya. mereka berkelit dan beralasan untuk kebaikan pasien. Misalnya mereka dengan lancang membocorkan kepada sesama perawat (dengan alasan tindak preventif), kepada keluarga pasien (dengan alasan agar bisa dipantau kesehatannya), kepada pasangan pasien (dengan alasan agar tidak menulari), kepada atasan tempat pasien bekerja (dengan alasan agar pasien dapat support moral). hal-hal tersebut NYATA terjadi dan dikeluhkan banyak sahabat MAHA STAR. 
Bahkan ternyata, data-data anda sebenarnya tidak 100% rahasia!
Ketika VCT, anda diminta untuk menyertakan kartu identitas bukan? Data-data pribadi anda sebenarnya diambil untuk kemudian dijadikan database oleh kementerian kesehatan. 
Silakan lihat skema yang diambil dari permenkes no 74 thn 2014 ini:


Semua data2 identitas, rekam medis anda dimasukan ke aplikasi negara bernama SIHA (Sistem Informasi HIV AIDS), sistem ini memiliki server pusat dan dapat diakses secara online oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Jadi, hasil tes anda akan dibuat laporan oleh para PL atau konselor yang keukeuh meminta-minta pada anda agar anda mau VCT, setor ke KPA untuk kemudian diinput ke SIHA, lalu data status HIV anda masuk ke dinas kesehatan tingkat provinsi, kota hingga kabupaten. anda mungkin bisa kapan saja dihubungi (bahkan didatangi) oleh KPA, konselor, dll. Parahnya, tidak akan ada lagi kesempatan anda mencoba validitas VCT karena data anda sudah masuk sistem online. jadi bila anda sudah tes di jakarta, iseng tes di balikpapan, kemungkinan besar hasil tes anda akan tetap reaktif.
Jadi, benarkah VCT menjamin kerahasiaan data anda? tentu tidak!

Jadi, inilah kenapa MAHA STAR mengkritisi sistem VCT di negeri ini, dan sangat tidak merekomendasi anda utk VCT. Selalu kritislah terhadap semua kebijakan terutama terkait HIV/AIDS.

Bangkit bersama MAHA STAR!

A.S.