Ayo Bergabung!

Senin, 01 Mei 2017

Tes Viral Load, Benarkah Menghitung Jumlah Virus HIV?

Tes viral load (atau biasa disingkat VL) digunakan sebagai acuan keberhasilan terapi antiretroviral (ARV) dengan menghitung (yang katanya) jumlah HIV dalam darah sampel menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Bila angka VL tinggi (misalnya ribuan copy) maka artinya virus masih banyak dalam tubuh, dan dikatakan "sehat" bila hasil dari VL adalah undetectable atau tidak terdeteksi.

Namun benarkah tes VL seakurat itu bisa menghitung jumlah virus HIV? padahal eksistensi virus ini saja masih menjadi perdebatan banyak pakar dan ahli medis di seluruh dunia.
Kita sebagai awam tentu masih bisa menilai dan meneliti sendiri, diantaranya melalui testimoni, dan juga menelaah jurnal-jurnal laporan penelitian ilmiah dalam hal tes viral load ini.

Testimoni Chris Janik: Perbedaan Signifikan Hasil VL di Dua tempat
Sebuah testimoni di grup Rethinking AIDS (afiliasi internasional MAHA STAR) terkait dengan tes viral load dari Chris Janik di Jerman, berikut transkrip aslinya:

"We all were talking a lot about the disclaimer in the test for viral load (PCR). Now I had enough to talk about this and decided to measure my viral load at two different laboratories at 11. April 2017.
First in Bonn at 1:45 pm and then in Cologne (were my HIV doc is) at 3:15 p.m.
There are 90 minutes between both blood takings. Shouldn't be the viral load at the same day within such a short period of time not be approximately the same????
But the result in Cologne ist three times (!!!!) bigger than what is measured in Bonn?"


 Hasil VL Chris Janik di Bonn (71.000 copies) tgl 11 April 2017 pukul 13:45

Hasil tes VL Chris Janik di Cologne (248.000 copies) tgl 11 April 2017 pukul 15:15

terjemahan: Kita semua sudah sering membahas tentang sanggahan dalam tes untuk viral load (PCR), sekarang saya sudah merasa cukup untuk membicarakannya dan memutuskan untuk mengukur viral load saya di dua lab yang berbeda pada tanggal 11 April 2017.
Pertama di Bonn pada pukul 1:45 siang dan di Cologne (dimana dokter HIV saya berada) pada pukul 3:15 sore.
Ada selisih waktu sekitar 90 menit antara kedua pengambilan darah. Bukankah seharusnya jumlah viral load pada hari yang sama dengan waktu yang singkat akan menghasilkan hasil yang kurang lebih sama??? tapi hasil VL di Cologne bisa tiga kali lipat lebih besar dari apa yang dihasilkan di Bonn?

Perbedaan signifikan hasil VL di dua lab berbeda di hari yang sama



Testimoni Juliane Sacher: Non-Reakif, Tapi VL Tinggi
Sebagai informasi, Dr. Juliane Sacher adalah seorang dokter swasta yang pernah bekerja bersama Otoritas Federal Jerman dalam studi HIV tahun 1987 - 1993, mengabdi pada komisi HIV/AIDS di parlemen tahun 1988, menerima penghargaan 100.000 Deutschmark untuk kerjanya pada pasien HIV/AIDS tahun 1990, dia bekerja sebagai ahli biostatistik di Wuppertal University tahun 2000 - 2002, dia tertarik dalam penyakit kronis termasuk pengobatan-pengobatan mainstream, dan sekarang menjadi salah satu anggota di Rethinking AIDS dan menjadi komite ahli bidang medis.

Dalam sebuah artikel ilmiah yang ia publikasikan tahun 2006, dia membahas tentang pengalaman dan analisa dia terhadap tes viral load. Dalam penelitiannya dia menggunakan darahnya sebagai sampel, dan melabeli dengan nama temannya yang pernah divonis HIV positif lalu diberikan pada petugas lab. bagaimanakah hasilnya? Dr. Sacher yang memang negatif HIV tapi dalam darahnya terdeteksi 1800 copies "virus". Ternyata Dr. Sacher ini penderita reumatik yang berhubungan dengan pembengkakan kronis. Jadi kesimpulannya beliau, bahwa tes PCR viral load tidak menghitung jumlah virus HIV, bahkan stres oksidatif dan pembengakakan akan dihitung. 
Tulisan lengkap Dr. Sacher bisa diunduh di sini.


Kary Mullis, Penemu PCR: "PCR hanya detektor, BUKAN Alat Penghitung!"
Dalam sebuah dokumenter, Kary Mullis, penemu teknik PCR, peraih nobel bidang biokimia, dan AIDS Denialist mengungkapkan bahwa, PCR dapat mendeteksi DNA dengan memproduksi jutaan copy, tapi perlu dicatat, PCR bukan alat ukur, tapi hanya alat pendeteksi (detektor), mengukur jumlah HIV pada sampel darah pasien dapat menghasilkan kesalahan angka yang serius.
Kary Mullis berpendapat bahwa para perusahaan medis dan lab menyalahgunakan temuannya (yaitu teknik PCR) untuk tujuan yang salah. Dokter-dokter mengatasnamakan tingginya angka VL (dimana ternyata angka VL tidak ada artinya) untuk memberikan obat-obatan. Benarkah obat-obatan itu menekan virus hingga undetectable? atau ternyata menekan aktivitas sel-sel normal?
Cuplikan tentang PCR dari Kary Mullis bisa dilihat di video di bawah ini.



Bahkan, dalam video diatas dikatakan juga, bahwa:
dalam brosur alat PCR COBAS HIV-1 Test tertulis bahwa:
"Alat tes HIV-1 COBAS tidak ditujukan untuk digunakan sebagai tes screening adanya virus HIV dalam darah, atau produk darah, atau sebagai tes diagnostik DALAM MENGKONFIRMASI adanya infeksi virus HIV."
lalu kenapa dokter-dokter masih menggunakan alat ini untuk mencari angka yang sebetulnya tidak ada artinya??



Kutipan Berbagai Hasil Penelitian
Berikut ini adalah kumpulan dari berbagai hasil penelitian internasional terkait dengan tes VL PCR yang ternyata tidak akurat:

  1. "hasil PCR positif HIV pada 3 kelahiran baru, bayi-bayi tersebut asimtomatik dan 4 telah dites pada 18 bulan menggunakan ELISA dgn 2 antigen berbeda dan 1 rapid tes untuk konfirmasi. Secara mengejutkan, seluruh dan 3 kelahiran baru yang positif PCR ternyata non reaktif pada ELISA" - Agarwal D Agarwal NR. False positive HIV-1 DNA PCR in infancy. Indian Pediatr. 2008 45 245-6
  2. "Orang yang malnutrisi biasanya memiliki angka viral load tinggi karena mereka hanya memiliki sedikit sumber daya dalam tubuhnya untuk melawan virus, Orang-orang dengan viral load tinggi akan lebih menulari. Malaria, bilharzia dan cacing usus juga akan menaikan angka viral load seseorang - Cullinan K. Radical approach to AIDS prevention. Health-e News (Cape Town). 2006 Jun 5
  3. "Secara paradoks, Serum awal kolestrol, tapi bukan atorvastatin, mempengaruhi viral load yang melambung pada minggu ke-4" - Negredo E Clotet B, Puig J, Perez-Alvarez N, Ruiz L, Romeu J, Molto J, Rey-Joly C, Blanco J. The effect of atorvastatin treatment on HIV-1-infected patients interrupting antiretroviral therapy. AIDS. 2006 Feb 28 20(4) 619-21.
  4. "PCR Kuantitatif seharusnya tidak digunakan dalam tes diagnostik HIV karena hasil positif palsu dan negatif palsu bisa terjadi di berbagai kondisi" - earon M. The laboratory diagnosis of HIV infections. Can J Infect Dis Med Microbiol. 2005 Jan 16(1) 26-30.
  5. "Dalam penelitian kami, kami mengalami insiden positif palsu HIV DNA PCR yang tinggi (75%) terutama pada anak-anak yang lebih muda" - Shah I. Diagnosis of perinatal transmission of HIV-1 infection by HIV DNA PCR. JK Science. 2004 Oct-Dec 6(4) 187-189.
  6. "56 orang yang secara klinis asimptomatik terinfeksi HIV, 31 (55%) orang yang dimana terinfeksi juga oleh helminth (cacing usus) diteliti. Pada permulaan, HIV VL sangat kuat berkorelasi dengan jumlah telur yang dikeluarkan dan lebih tinggi pada orang yang terinfeksi oleh lebih dari satu helminth. Setelah treatmen helminth, 6 bulan perubah VL HIV secara signifikan berbeda antara grup yang sukses ditreatmen dan grup yang masih terinfeksi helminth" (artinya infeksi cacing usus mempengaruhi jumlah VL HIV) - Wolday D Mayaan S, Mariam ZG et al. Treatment of Intestinal Worms Is Associated With Decreased HIV Plasma Viral Load. J Acquir Immune Defic Syndr. 2002 Sep 1 31 56-62
  7. "tidak ada hubungan kepatuhan (ARV) dengan VL, meskipun hanya 13 orang (31%) yang memenuhi seluruh target kepatuhuan" - Stein MD Rich JD, Maksad J et al. Adherence to antiretroviral therapy among HIV-infected methadone patients: effect of ongoing illicit drug use. Am J Drug Alcohol Abuse. 2000 May 26(2) 195-205
  8. "DNA kanker payudara dari 40 pasien di teskan PCR dengan HIV-1 gp41, dan SELURUH sampel dihasilkan positif. fragmen-fragmen DNA diperkuat dengan 7 sampel acak kanker payudara, rangkaian DNA kanker payudara menunjukan paling tidak 90% homologi pada HIV-1 gen untuk gp41" - Rakowicz-Szulczynska EM Jackson B, Szulczynska AM, Smith M. Human immunodeficiency virus type 1-like DNA sequences and immunoreactive viral particles with unique association with breast cancer. Clin Diagn Lab Immunol. 1998 Sep 5(5) 645-53
  9. "pada 223 spesimen untuk anak terinfeksi HIV, 89% positif PCR, 11% negatif PCR, dan 1% dengan status tidak jelas (indeterminate)" - Bremer JM Lew JF, Cooper E et al. Diagnosis of infection with human immunodeficiency virus type 1 by a DNA polymerase chain reaction assay among infants enrolled in the women and infant's transmission study. J Pediatr. 1996 Aug 129(2) 198-207
  10. "hanya 50% dari grup lab kolaborasi uji klinis AIDS yang mampu mendeteksi 60 copies dari HIV RNA di 150,000 sel di program standarisasi PCR Institut Kesehatan Nasional. 33% dari lab-lab ini mendapatkan kendala dengan hasil-hasil positif palsu" - Tudor-Williams G. Early diagnosis of vertically acquired HIV-1 infection. AIDS. 1991 Jan 5(1) 103-5

 Laporan lengkap terkait penelitian-penelitian ketidakakuratan VL PCR bisa dilihat di sini.

So, masih yakin dengan harga tes VL yang tinggi berbanding lurus dengan ketepatan dan validitas hasil??
Selalu,
Gue MAKIN enggak kudet
bangkit bersama MAHA STAR!


0 komentar:

Posting Komentar