Ayo Bergabung!

Senin, 22 Mei 2017

Antiretroviral (ARV) Bukan Sekedar Efek Samping

Banyak yang masih belum mengetahui, apa itu ARV, kenapa pada nama MAHA STAR dibubuhi : Stop ARV? emangnya ARV itu apa sih?
ARV atau antiretroviral adalah jenis obat kimia yang dianggap dapat menekan replikasi virus HIV pada orang yang divonis ODHA. Seseorang yang divonis mengidap HIV diharuskan meminum ARV setiap hari seumur hidupnya sehingga dia dijanjikan punya umur panjang dan bebas dari kondisi AIDS (kondisi drop karena hilangnya imunitas tubuh dalam melawan penyakit lain).
Terdengar simple, mudah dan melegakan bukan? divonis HIV, ditakuti-takuti berumur pendek, dan diberi harapan bisa berumur panjang bila konsumsi ARV seumur hidup, dan poff! happily ever after? ternyata tidak.
loh, kenapa?

Sebelum kesana, yuk kita berkenalan dulu dengan jenis-jenis ARV.
Di Indonesia, terdapat 3 golongan antiretroviral yang tersedia yaitu NRTI, NNRTI dan protease inhibitor (PI).

NRTI: Zidovudin (ZDV), Tenofovir (TDF), Stavudin (d4T), Abacavir (ABC), Lamivudin (3TC), Emtricitabin (FTC)
NNRTI : Nevirapin (NVP), Efavirenz (EFV)
Protease inhibitor : Lopinavir/Ritonavir (LPV/r)

ARV lini pertama adalah kombinasi antara dua NRTI dan satu NNRTI. ada 3 jenis obat yang akan digunakan.
NRTI pertama : Tenofovir/Zidovudin/Stavudin
NRTI kedua : Lamivudin/Emtricitabin
NNRTI : Nevirapin/Efavirenz

Terdapat pula FDC (Fixed Dose Combination/ Kombinasi Dosis Tetap) yang diminum sehari sekali dengan kombinasi 3in1 ARV (terdiri dari tenofovir, lamivudin dan efavirenz) dan duviral (Zidovudin dan Lamivudin). Karena Duviral hanya terdiri dari 2 macam obat jenis NRTI, maka perlu ditambahkan satu jenis lagi dari golongan NNRTI, yaitu Efavirenz.
Dengan kombinasi-kombinasi ARV diatas, tervonis HIV harus meminum obat-obat tersebut secara disiplin, tepat waktu, dan jangka panjang, atau ancamannya, virus HIV akan resisten, padahal obat-obat itu tergolong obat keras dan berbahaya bagi organ tubuh manusia.

Lalu pertanyaan besarnya,
benarkah ARV adalah satu-satunya jalan?
sayangnya, dokter-dokter konvensional kita masih beranggapan begitu, padahal ARV tidak sepenuhnya innocent.

1. Efek Samping ARV adalah AIDS itu Sendiri
Apa yang terjadi bila anda makan vetsin/MSG/Monosdium glutamat/penyedap rasa setiap hari seumur hidup? paling tidak, akan terjadi reaksi-reaksi abnormalitas dalam tubuh, itu lah kenapa ahli gizi dan dokter membatasi konsumsi vetsin dan melarang untuk dikonsumsi terlalu sering.
Padahal, vetsin dibuat dari bahan-bahan alami dari alam dengan bantuan teknologi industri, namun tetap memberikan efek negatif. sekarang, anda banyangkan ARV, obat keras buatan lab harus anda konsumsi setiap hari.
Bahkan pakar medis dan dokter mengakui bahwa ARV memiliki efek samping jangka pendek dan panjang. Efek jangka pendek yang paling sering terjadi adalah mual, nyeri ulu hati, pusing, linglung, halusinasi, gangguan pencernaan (diare), gangguan kulit (menghitam, ruam), dan efek psikologis seperti mood swing atau menjadi agresif. meski tampak ringan, efek ini dapat mengganggu produktifitas sehari-hari.
Efek jangka panjang yang akan terjadi bila ARV dikonsumsi dalam waktu lama adalah lipodistrofi, yaitu perubahan distribusi ke daerah tubuh yang tidak lazim, sehingga lemak akan tertumpuk di dada pria (spt payudara), belakang leher, dan kehilangan lemak di pipi), sindrom steven johnson, dimana seluruh kulit melepuh dan menyebabkan kematian. efek jangka panjang lainnya seperti kerusakan ginjal, hepatoksisitas (liver yg keracunan), sirosis hati, kerusakan syaraf pusat, bipolar,  kehilangan kordinasi tubuh, pikun, dll. efek jangka panjang ARV bisa dilihat di sini.

2. Bahan Baku ARV yang Tidak Jelas dan Tidak Halal
Ketika kita makan, maka kita sangat peduli dengan apa saja yang terkandungnya, gizinya, cara memasaknya, bahan bakunya, hingga bumbu-bumbunya komplit dengan tingkatan pedasnya. Tentu saja makanan-makanan berpengawet, pewarna buatan, berkimia pestisida, dan tidak higienis akan ditolak masuk ke mulut kita.
Tapi apakah kita memberlakukan hal yang sama pada obat? seberapa sering anda mengecek komposisi obat, takaran, indikasi, dan efek samping obat bahkan obat warung sekalipun? Taukah anda bahwa 90% obat di Indonesia tidak halal karena mengandung alkohol, bahan baku dari babi, dan zat-zat psikotropika?
Bahkan untuk beberapa jenis ARV seperti Efavirenz mengandung benzodiazepine, zat narkotika dengan efek sedatif atau penenang yang membuat peminumnya sempoyongan, ngefly, pusing, berhalusinasi bahkan bila diminum jangka panjang akan menyebabkan kerusakan syaraf pusat.
silakan baca lebih banyak tentang zat narkotika dalam ARV di sini.
Lalu, dimanakah letak keberkahan dan kebahagian hidup kalau anda harus terus menenggak zat narkotika seumur hidup hanya karena ingin panjang umur?

3. Inkonsistensi Kebijakan dan Kekacauan Distribusi ARV
Kejadian setiap tahun yang rutin terjadi adalah kurangnya stock bahkan kekosongan obat di berbagai tempat di Indonesia. Hal ini terjadi merata di seluruh Indonesia setiap tahunnya. ODHA yang biasanya mengambil obat untuk seminggu hanya diberi 3 hari bahkan harus rela pinjam dan bahkan absen tidak minum untuk sehari dua hari, yang biasanya mengambil FDC, maka harus merubah jadwal karena diberi pecahan, bahkan tak jarang, ARV-ARV yang telah kadaluarsa di gudang dikluarkan dan diberikan pada tervonis HIV, dengan pembenaran-pembenaran agar tetap mau menenggaknya tanpa rasa khawatir. Fakta tentang ARV kadaluarsa yang dipaksakan pada ODHA bisa dibaca di sini.


Screenshot yang diambil dari grup "monitoring ARV"

Dengan kondisi seperti itu, inkonsistensi para pelaku komersialiasi obat mulai terjadi. Sebelum terjadi kekosongan obat, para tervonis ditakuti-takuti oleh dokter dan konselor dengan mengatakan bahwa harus patuh minum ARV, tidak boleh disubstitusi, setiap hari, pada jam yang tepat, bila terlewat/tidak patuh maka virus akan resisten, pengobatan gagal, dan harus naik lini 2. Namun ketika terjadi kekosongan ARV, dokter dan konselor mulai longgar dengan mengatakan "tidak apa-apa terlewat 2-3 hari tanpa ARV, yang penting pola makan dan istirahat dijaga ya", atau bahkan ada yang diresepkan vitamin C dan antibiotik sebagai substitusi ARV beberapa hari. benar-benar tidak konsisten ya.

4. Komersialisasi isu HIV/AIDS dan ARV
Para petugas lapangan dan konselor mengklaim bahwa mereka mengajak orang-orang untuk VCT adalah tindakan sosial dan sukarela, padahal ada pundi-pundi yang mengalir disitu, terlebih bila para petugas lapangan, dampingan, dan konselor bisa menjaring orang-orang melebihi target bulanan, maka bonus rupiah bisa didapat. Hal seperti ini memicu banyak kasus para petugas lapangan yang mencuri data pasien HIV dari rumah sakit dan mengklaimnya sebagai hasil ajakan mereka untuk dilaporkan ke KPA. 
Belum lagi ketika tervonis HIV kemudian dipaksa untuk ambil ARV oleh para konselor ini, bahkan tak jarang mereka nekat datang kerumah pasien dan membocorkan status HIVnya pada keluarganya, hal yang seharusnya dirahasiakan oleh mereka, bahkan seharusnya menjadi kode etik mereka.
Kenapa mereka bisa berbuat seperti itu? lagi-lagi karena rupiah. Makin banyak ODHA yang ambil ARV, maka target bulanan mereka tercapai.
Belum lagi privilege bagi mereka yang achieve target, mereka akan diundang menginap di hotel-hotel untuk mengikuti pelatihan dan lokakarya ini itu bagi konselor. suatu lahan subur yang menggiurkan.


Screenshot bukti para pelaku komersialisasi isu HIV yang mengaku bekerja sosial

Loh, bukankah ARV itu gratis? lalu dimana letak komersialisasinya?
Siapa bilang ARV gratis? ARV yang sampai ke tangan para ODHA itu dibeli negara oleh uang APBN dan didistribusikan pada ODHA dengan subsidi. Bila tanpa subsidi negara, ODHA setiap bulannya harus membayar 600-800 ribu sebulan untuk lini 1, atau 1,5 juta hingga 2 juta untuk lini 2.
Dari manakah negara membeli ARV? tentu dari perusahaan farmasi atau negara-negara yang memproduksi massal ARV seperti India. Suatu keuntungan massif untuk perusahaan obat tersebut bisa memasok obat untuk banyak negara. Tak jarang, para perusahaan ini memberi "bonus" dengan cara mengundang ke seminar-seminar di luar negeri, atau untuk sekala besar, adalah donasi kesehatan yang diberikan melalui WHO dan world bank. Tak heran bukan rantai jual-beli obat ini begitu terstruktur dan masif?
Belum lagi rencana pemerintah yang baru-baru ini menuai kontroversi, setelah kebijakan SUFA (pemberian ARV tanpa melihat CD4), kebijakan PrEP (konsumsi ARV bagi non-reaktif sebagai pencegahan), lalu muncul kebijakan ARV-B (ARV berbayar). Pemerintah mulai tidak yakin apakah negara masih bisa mensubsidi ARV bagi rakyatnya, terlebih angka tervonis tiap tahunnya selalu naik, diiringi gencarnya program VCT (bila pemerintah saja mulai khawatir dengan keuangan negara, lalu apa yang membuat mu yakin kalau ARV akan selamanya gratis?), maka pemerintah berencana membuat ARV bisa dibeli di apotik. simak lebih lengkap soal ARV berbayar di sini.

Silakan simak video tersebut, kenapa MAHA STAR menolak ARV:


Namun kembali lagi, MAHA STAR tidak pernah menyuruh anggotanya untuk tidak atau berhenti ARV. MAHA STAR hanya memberikan pertimbangan bagi yang bingung harus kah menenggak obat secara disiplin dan seumur hidup, tapi keputusan akhir tetap ada ditangan individu masing-masing, karena diri masing-masing lah yang akan merasakan semua resiko dari pilihannya.
Bagi mereka yang memilih untuk tidak meracuni diri dengan ARV, MAHA STAR siap untuk menjadi sharing dan supporting group sehingga bisa lebih sehat dan tidak merasa sendiri.
Tak perlu risau,
keep calm and fight stigma

Bangkit bersama MAHA STAR!

0 komentar:

Posting Komentar