Ayo Bergabung!

Minggu, 03 September 2017

Efek Psikosomatis adalah Pembunuh Tervonis HIV

Psikosomatis terdiri dari dua kata, pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Gangguan psikosomatis adalah penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh, di mana pikiran memengaruhi tubuh hingga penyakit muncul atau diperparah. Dengan kata lain, istilah gangguan psikosomatis digunakan untuk menyatakan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor mental, seperti stres dan rasa cemas.

Seperti diketahui, pikiran dapat menyebabkan munculnya gejala fisik. Contohnya, ketika merasa takut atau cemas bisa muncul tanda-tanda seperti denyut jantung menjadi cepat, jantung berdebar-debar (palpitasi), mual atau ingin muntah, gemetaran (tremor), berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala, sakit perut, napas menjadi cepat, nyeri otot, atau nyeri punggung. Gejala fisik tersebut disebabkan oleh meningkatnya aktivitas impuls saraf dari otak ke berbagai bagian tubuh. Selain itu, pelepasan adrenalin (epinefrin) ke dalam aliran darah juga bisa menyebabkan gejala fisik di atas.

Pada penderita gangguan psikosomatis, setiap penyakit fisik pasti ada pengaruh dari sisi mental. Ini karena cara orang bereaksi dan mengatasi suatu penyakit sangat bervariasi. Sebagai contoh, beberapa orang mungkin tidak merasa terganggu ketika mengalami ruam psoriasis (kondisi kulit kronis yang menyebabkan sel-sel kulit tumbuh terlalu cepat). Namun penyakit ini bisa membuat beberapa orang lain merasa tertekan dan penyakitnya pun terasa lebih sakit.

Penyakit mental bisa jadi juga akan berpengaruh pada fisik seseorang. Ketika menderita penyakit mental, Anda mungkin jadi tidak bernafsu makan, malas beraktivitas, atau enggan mengurus diri sendiri. Akibatnya, masalah atau penyakit fisik pun jadi bermunculan.

Beberapa penyakit fisik (seperti eksim, hipertensi atau tekanan darah tinggi, radang perut, penyakit jantung, psoriasis, sakit pinggang bagian bawah) dianggap sangat rentan ditimbulkan atau diperparah oleh faktor mental seperti stres dan rasa cemas. 

Stress dan Depresi pada Tervonis HIV
Orang-orang yang baru tervonis HIV biasanya mulai merasakan penyakit-penyakit dadakan yang sebelumnya tidak pernah atau jarang terasa. Beberapa mengeluh diare pada minggu ke dua setelah ia divonis mengidap HIV.
Banyak jurnal penelitian menyebutkan bahwa efek-efek tersebut adalah akibat dari gangguan psikosomatis yang mengganggu proses metabolisme dan fisiologi tubuh, bahkan tidak jarang gangguan psikosomatis akibat stress berlebih, rasa cemas, khawatir, depresi, dan trauma menurunkan imunitas tubuh dan menekan nafsu makan sehingga tubuh tanpa pertahanan nutrisi tersebut mudah terserang berbagai penyakit.
Bila ingin mengecek efek dari gangguan psikosomatis pada kesehatan, anda bisa lakukan pada orang sehat, anggaplah ada seorang istri yang suaminya meninggal karena sakit, lalu kabarkan pada istrinya bahwa suami ibu tersebut meninggal karena AIDS, dan ibu tesebut kemungkinan juga mengidap HIV, dengan memberikan keyakinan pada si ibu bahwa dirinya memang mengidap HIV (tes darah, tes VCT, tes ini itu) padahal sebetulnya ibu itu sehat, maka dalam hitungan hari tubuh si ibu akan lemah, dan terserang banyak penyakit. Jadi yang membuat sakit bukan HIV (yang sebetulnya tidak terbukti), namun karena stress dan depresi yang menimbulkan gangguan psikosomatis, menekan asupan nutrisi, mengganggu metabolisme dan fisiologi, dan juga menurunkan imunitas.

Pengaruh Psikosomatis terhadap Angka CD4 dan Viral Load
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa gangguan psikosomatis dapat menganggu proses fisiologis dan penurunan imunitas. dalam jurnal Psychosomatic Medicine menyatakan bahwa ganggungan-gangguan psikosomatis seperti stress, depresi, dan trauma menyebabkan penurunan drastis pada angka CD4 dan peningkatan pada jumlah viral load. Bahkan beberapa studi menyatakan bahwa efek psikosomatis dapat menyebabkan AIDS non HIV, artinya muncul kondisi AIDS (imun yang drop dengan berbagai penyakit infeksi) padahal pengecekan anti-HIV nya non-reaktif.

Stigma dan Diskriminasi adalah Pembunuh Utama
Selain faktor internal psikologis seseorang, faktor eksternal pun dapat menyebabkan gangguan psikosomatis. Yaitu stigma dan diskriminasi yang melekat pada orang tervonis HIV.
Andai misalkan orang-orang tervonis HIV bisa menjaga nutrisi, mengelola stress dan menjaga lifestyle positif namun bila didera oleh stigma dalam lingkungan, maka akan berpengaruh pada kesehatannya.
Stigma paling lumrah yang masih melekat di masyatakat adalah pelabelan. Melabeli bahwa orang-orang yang tervonis HIV adalah orang bejat dan tidak memiliki kualitas apapun, stigma dalam tempat kerja misalnya bahwa karyawan yang divonis HIV akan turun produktivitas kerjanya dan akan memberikan dampak buruk bagi karyawan lain, stigma dalam kluarga misalnya mencap anggota keluarga tervonis sebagai aib keluarga yang harus disembunyikan. Stigma, pelabelan, pengecapan seperti itu akan menimbulkan efek psikologis, tekakan, depresi sehingga menimbukan gangguan psikosomatis yang memperparah kesehatan.
Diskriminasi biasanya adalah efek dari stigma, diskriminasi pada orang tervonis HIV pun masih sangat kental dalam masyarakat, misalnya perlakuan diskriminatif di rumah sakit (menuliskan HIV pada tempat tidur, menempatkan pada kamar isolasi, dll), di tempat kerja (menjauhkan meja kerja dari karyawan lain, memotong upah kerja dengan alasan ini itu), di rumah (memisahkan dan mengkhususkan alat makan, alat mandi, dan pencucian pakaian) juga akan memperburuk kualitas kesehatan tervonis akibat gangguan psikosomatis.

ARV Memperparah Efek Psikosomatis
ARV terutama golongan NNRTI seperti efavirenz dan nevirapine terbukti secara klinis menyebabkan efek samping psikologis seperti depresi, tekanan stress (mimpi buruk setiap malam dan halusinasi yang menimbulkan traumatis), hingga bipolar (dengan kecendrungan bunuh diri) dan bahkan mengakibatkan neuropati dan kerusakan sistem syaraf pusat (CNS - central nervous system).
Efek samping lain dari ARV secara umum seperti munculnya payudara pada pria, kehilangan lemak pada pipi, kulit yang menghitam bahkan melepuh justru meningkatkan resiko stigma dalam masyarakat. Pelabelan bahwa tervonis HIV merusak bentuk dan penampilan menjadi aneh sehingga mengakibatkan pengasingan dan menurunkan kepercayaan diri, depresi, stress dan gangguan psikosomatis.

Kesimpulan
Melihat Kecendrungan-kecendrungan diatas, dapat disimpulkan bahwa pembunuh para tervonis HIV adalah efek psikosomatis (stress, depresi, trauma) yang mengakibatkan gangguan metabolisme, fisiologis, bahkan penurunan imunitas, dan diperparah dengan efek samping ARV juga stigma dan diskriminasi di masyarakat.
Maka dari itu, MAHA STAR akan terus berjuang meningkatkan kualitas tervonis HIV dengan meruntuhkan stigma, diskriminasi, menolak ARV sehingga dapat meminimalisir gangguan psikosomatis.


Gue enggak kudet
bangkit bersama MAHA STAR!

Sumber:
Disarikan dari web Alodokter: Gangguan Psikosomatis, Ketika Pikiran Menyebabkan Penyakit Fisik
Journal Psychosomatic Medicine: Role of Depression, Stress, and Trauma in HIV Disease Progression
Journal Immunology Oxford: Non-HIV AIDS: nature and strategies for its management
Journal Annals of Internal Medicine: Impact of Efavirenz on Neuropsychological Performance and
Symptoms in HIV-Infected Individuals
Journal Neurology Informa: Neuropsychiatric side effects of efavirenz therapy
Journal AIDS: Depressive Symptoms Predict Increased Incidence of Neuropsychiatric Side Effects in Patients Treated With Efavirenz

Rabu, 30 Agustus 2017

Divonis Saat Tes Pranikah, Drop Karena ARV, dan Bangkit Karena MAHA STAR

Testimoni berikut adalah pengakuan dari member baru di grup diskusi MAHA STAR,
dia bercerita tentang saat pertama divonis mengidap HIV melalui tes medical check up sebelum menikah atau pre marital check up, (FYI, beberapa daerah di Indonesia memberlakukan perda surat keterangan bebas HIV sebagai syarat menikah di KUA), lalu ARV dan drop, kemudian setelah bergabung di MAHA STAR, dia bisa bangkit kembali.
simak testimoni berikut yang dicopas langsung dari grup:

"TESTIMONI ARV
kenalkan nama saya v***y, saya HIV Reaktif sejak 2012 (jgn ditanya itu dpetnya dr mana, gak penting..!!) saya test karna waktu itu mau cek kesehatan lengkap pra nikah. Tapi ternyata positif. Kaget sih tdk percaya juga. Saya test lagi di RS luar kota dan hasilnya jg reaktif. Yahh. Mau gmn lagi.. Pernikaha. Sdh di depan mata. Tambah bingung kan. Tp aku yakin semua ada jalan keluarnya.
Orang pertama yg saya kasih tau adlh calon istri, karna dia lah yg akan hidup bersama merawatku sampai akhir hayat. Kaget dan yahh.. Bisa di bayangkan lah.. Sama2 nangis.. Simalakama. Mau di gagalin kabar pernikaha udah kesebar semua. Jd kita sama2 yakin. Hidup dan mati itu tuhan yg atur. HIV hanya virus. Yg penting kita tetep sehat.
2014 saya jadi Resepsi pernikahan tanpa memikirkan status apapun. Dan alhamdullah 2015 sdh punya anak. Sampe sekarang anakku sdh usia 2 tahun. Dan sehat bahkan sangat aktif. Intinya ga perlu dipikirin.
Oh iya. Tentang ARV. 2012 s-d 2015 saya tdk terapi apa2, hanya cukup jaga kesehatan saja. 2015 saya d suruh mulai arv karna CD4 ku rendah. 115. Tp aku sehat2 aja waktu itu cm ya kecapean karna capek ngurus kelahiran si kecil. Karna waktu itu semua rumah sakit menolak kelahiran anakku. Karna bapak nya seorang odha. Tp ya sdh lah.. Akhirnya aku mulai arv agt 2015. Seminggu arv badan lsg drop. Gatal2 seluruh tubuh. Panas dingin mual2. Akhirnya aku opname di rs. Anakku yg masih usia 2 bulan aku tinggal selama 20 hari aku opname. Ntah waktu itu aku semakin tdk sehat. Kerjaan jg semakin tdk baik. Aku di pindah ke bagian lain karna ak sering sakit2an.
Alhamdulillah. Aku diseret ke group ini. Awlnya ak sangat menentang sekali group maha star ini. Tapi aku ikutin terus postingan demi postingan. Ada testimoni ada obat ada herbal ada terapi dll. Akhirnya aku putuskan bln okt 2016 stop arv sampai sekarang. Efek arv perlahan menghilang, gatal2 jg sdh tdk sebanyak dulu. Tdk pernah sakit2an lagi. Berat badan normal lagi. Dn yg penting anak istri jg sehat.. Hidup dan mati itu sdh di atur. Tapi kalu sehat dan sakit itu kita yg sendiri yg harus lebih mengerti pola hidup sehat."



MAHA STAR akan tetap konsisten menginformasikan fakta fakta yang bermanfaat
di MAHA STAR selalu, gue enggak kudet.
Bangkit Bersama MAHA STAR!

Minggu, 27 Agustus 2017

Aloe Vera: Si Duri Hijau dengan Berbagai Khasiat

 Catatan sejarah menyatakan bahwa banyak peradaban peradaban di dunia pernah menggunakan lidah buaya atau aloe vera menjadi pangan dan obat. Dalam pengobatan ayuverda, penggunaan aloe vera disebut kathalai. Seiiring dengan perkembangan teknologi, berbagai penelitian menyebutkan bahwa ternyata aloe vera memiliki berbagai kandungan biologis dan bermanfaat bagi tubuh.


Kandungan Aloe Vera
Diantara banyaknya kandungan aloe vera, berikut adalah komponen yang bermanfaat bagi tubuh, yaitu:
Acemannan: mempercepat pemulihan luka pada kulit, memperkuat sistem imun, menghambat pertumbuhan sel tumor, dan antiviral
Alprogen: anti-alergi
C-glycosyl chromone: anti inflamasi
Bradykinase: anti inflamasi
Magnesium lactate: anti alergi
Salicylic acid: analgesik dan anti inflamasi

Disarikan dari berbagai jurnal penelitian ilmiah, aloe vera memiliki manfaat sebagai:

Penyembuh Luka Bakar
Banyak penelitian menyatakan bahwa penggunaan topikal gel dari aloe vera dapat menyembuhkan luka bakar, karena aloe vera meningkatkan kontraksi pada daerah yang luka dan meningkatkan kadar kolagen pada kulit. Peran acemannan dalam aloe vera meningkatkan aktivitas kolagen dalam sel ligamen manusia.

Immunomodulator
Bila digunakan dalam bentuk gel, maka dapat menghambat proses pembengkakan. Aloe vera juga menunjukan aktivitas farmakologi dalam mengurangi respon pembengkakan penyakit usus

Anti Diabetes
Studi klinis menunjukan bahwa aloe vera gel dapat bertindak sebagai anti hiperglikemik dan anti hiperolesterol agen yang aman bagi pasien diabetes tipe 2 tanpa ada efek signifikan pada tingkat lipid darah normal atau fungsi hati dan ginjal.
Gel ale vera juga membantu meningkatkan metabolisme karbohidrat, meningkatkan kondisi metabolis pada pasien obesitas pre-diabetes dan pasien diabetes tanpa penanganan awal dengan mengurangi bobot tubuh, masa lemak tubuh, glukosa darah puasa, dan insulin puasa pada orang yang diabetes.  

Anti Oksidan
Aloe vera mengandung beberapa substansi antioksidan meliputi tokoferol (vitamin E), karotinoid, asam askorbat (vitamin C), flavonoid, dan tanin, itu semua telah diketahui bahwa antioksidan tersebut merupakan bahan penting dari tanaman obat yang digunakan dalam penanganan berbagai penyakit 

Manfaat Hepatoprotektor
Isolasi fitosterol dalam aloe vera mampu memiliki kemampuan untuk induksi penurunan regulasi sintesis asam lemak dan condong pada penaikan regulasi dari oksidasi sintesis asam lemak dalam liver, yang mampu mengurangi lemak intra-abdominal dan meningkatkan hiperlipidemia. 
Kombinasi dari probiotik lactobasilus rhamnosus GG dan gel aloe vera memiliki potensi penyembuhan dalam menurunkan tingkat kolesterol dan resiko penyakit kardiovaskuler.

Anti Kanker
Aloin, komponen alami utama dalam aloe vera telah didokumentasikan potensinya sebagai pilihan terapi bagi kanker, dimana menunjukan efek kemoprotektif. Aloe-emodin, juga komponen alami dalam aloe vera telah diteliti memiliki aktivitas biologis yang beragam termasuk fungsi anti-kanker. Komponen tersebut memiliki efek antiproliferasi pada beberapa tipe sel kanker, seperti pada sel kanker di paru-paru, squamous pada kulit, glioma pada otak, dan sel neuroektodermal.

Anti Mikroba
Aloe vera juga merupakan agen anti bakteri. gel daun aloe vera memiliki khasiat anti jamur terhadap jamur jenis candida. Aloe vera juga memiliki anthraquinone sebagai bahan aktif, dimana merupakan analog sturktur dari tetracycline. Anthraquinone berfungsi seperti tetracycline yang menghambat sintesis protein bakteri sehingga bakteri tidak dapat tumbuh.
Penelitian terbaru juga menunjukan bahwa gel aloe vera menunjukan aktivitas antibakteri terhadap strain Helicobacter pylori resisten, dan pengaruhnya terhadap fenomena resistensi antimikroba. Dapat disimpulkan bahwa aloe vera adalah agen alami efektif bila dikombinasikan dengan antibiotik untuk penanganan infeksi lambung atau masalah pencernaan. 

Antiviral
Banyak penelitian menunjukan bahwa gel aloe vera memiliki aktivitas antiviral yang mencegah penyerapan, penempelan dan masuknya virus pada sel inang. Penelitian in vitro juga menunjukan bahwa ekstrak aloe vera memiliki khasiat antiviral terhadap virus herpes simplex tipe 2. Berbagai bahan aktif dalam aloe vera juga dapat mengahambat replikasi virus influenza. Selain itu, percobaan awal telah dilakukan terhadap aloe vera yang dikonsumsi ternyata dapat membantu orang yang tervonis HIV untuk meningkatkan sistem imunnya dan menambah jumlah CD4.

Mengolah Aloe Vera
Meski memiliki banyak manfaat luar biasa, aloe vera alami tidak dapat dikonsusmsi begitu saja, karena terdapat lendir yang akan menimbulkan rasa getir dan gatal pada lidah, lendir tersebut bersifat toksik dan dapat menyebabkan keram perut dan diare bila tertelan. Cara mengolah aloe vera alami untuk dikonsumsi adalah:

  • Hilangkan duri lidah buaya dan cuci dengan air mengalir, lalu pisahkan kulit dan daging lidah buaya
  • Cuci bersih lidah buaya hingga lendir hilang, dan potong dadu
  • Rendam potongan lidah buaya dengan air garam selama kurang lebih 20 menit, cuci kembali dengan air mengalir
  • Rebus daging lidah buaya selama 15 menit, tambahkan daun pandan agar baunya hilang
  • Angkat dan tiriskan, lidah buaya siap diolah.
Bila tidak yakin dalam mengolah lidah buaya, saat sudah banyak dipasaran yang menjual nata aloe vera atau daging lidah buaya dengan sirup manis. 

Gue enggak kudet,
Bangkit bersama MAHA STAR!

Sumber:

Senin, 14 Agustus 2017

Yogurt: Manfaat Probiotik bagi Imunitas



Siapa yang tidak tau yogurt?
Makanan dari produk susu yang mengandung probiotik (mikroorganisme yang bila dalam jumlah yang cukup dapat memberikan manfaat kesehatan bagi inangnya) ini sudah sangat familiar bagi masyarakat, terlebih bila mengalami gangguan pencernaan seperti diare, yogurt menjadi pilihan dalam pengobatan.
Selain pengobatan, ternyata yogurt juga dapat meningkatkan kesehatan dan imunitas manusia loh.
Penelitian baru-baru ini menunjukan bukti bahwa probiotik mampu mengurangi resiko sakit dalam populasi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan, status fisik, dan penyakit riwayat keluarga Manfaat ini dapat terjadi karena hasil dari status imun yang meningkat, berkurangnya infeksi pencernaan, atau peningkatan integritas pencernaan.

Yogurt dan Pasien HIV
Sebuah penelitian di Afrika mencoba memberikan treatmen yogurt pada pasien HIV positif di Afrika, dimana sebetulnya nutrisi dan air sangat kurang. 
Seperti yang disampaikan oleh Luc Montagnier, penemu HIV, dan peraih nobel kedokteran mengungkapkan bahwa sebetulnya HIV dapat dihilangkan dengan perbaikan nutrisi, air, dan sanitasi yang layak. Bila kita melihat kondisi di Afrika, dimana epidemi HIV paling banyak, ternyata juga mengalami kondisi malnutrisi, kelaparan, kekeringan, dan lingkungan hidup yang kurang bersih dan kurang layak, tak heran kasus terdeteksi HIV/AIDS ditemukan paling banyak di sana.
Dalam penelitian di Afrika yang dilaporkan oleh jurnal NCBI, pasien yang terdeteksi HIV positif dengan kondisi buruk karena kekurangan nutrisi maupun efek samping ARV diberikan yogurt beberapa kali, dan hasilnya mayoritas memberikan hasil yang baik.
Hampir seluruh pasien menunjukan hasil pemulihan dari kondisi tubuh mereka, diantaranya kenaikan bobot tubuh, berkurangnya keluhan-keluhan pencernaan (diare) dan masalah kulit (ruam-ruam) efek dari ARV, hingga naiknya angka CD4 menjadi 500.
Beberapa pasien memilih untuk berhenti ARV karena efek yang luar biasa menyiksa dan menimbulkan penyakit dalam tubuh, lalu beralih dengan konsumsi yogurt. salah satu testimoni dari pasien tersebut adalah:

"… I noticed myself, from taking the yogurt, that I felt really good. I now have energy I did not have before…. I feel strong now. So, I know that this probiotic medicine is something that is good for my health. This is why I stopped taking ARVs. The yogurt is helping me so much that I do not even have to take ARVs. This is good because they [ARVs] made me feel very sick before, and now I have energy. I also like the taste of the yogurt. It is a good meal for me." (Anisia, female, HIV+ve).

terjemahan: Saya merasakan sendiri, sejak saya minum yogurt, saya merasa sehat/.Sekarang saya memiliki energi yang tidak saya miliki sebelumnya... saya merasa kuat sekarang. Saya sekarang tau bahwa obat probiotik ini adalah sesuatu yang baik bagi kesehatan saya. inilah kenapa saya berhenti minum ARV. Yogurt sangat membantu saya hingga saya tidak lagi perlu minum ARV. ini bagus karena sebelumnya, ARV membuat saya sangat sakit, dan sekarang saya berenergi, dan saya juga suka dengan rasa dari yogurt ini, ini makanan yang baik untuk saya.: (Anisia, Perempuan, HIV+)


Testimoni lain yang menyatakan untuk berhenti ARV dan beralih ke yogurt lalu mengalami kenaikan CD4:
"Probiotic yogurt is a powerful medicine … it just makes me feel healthy. I take yogurt instead of ARVs to help me feel better from the HIV. The ARVs used to make me feel very sick, and I do not like them. Also, since I have been taking the yogurt, my CD4 counts have gone up, and this is why I know that it helps my immune system. My CD4 count has gone from 235 to 315. Since this is helping me so much, I stopped taking my ARVs.… It is simple, the ARVs make me feel sick but the yogurt does not, and it tastes good." (Durhame, female, HIV+ve).

Terjemahan: "Yogurt probiotik adalah obat yang luar biasa... itu membuat saya merasa sehat. saya minum yogurt daripada ARV untuk membuat saya lebih baik dari HIV. ARV membuat saya merasa sangat sakit, dan saya tidak suka itu. juga, sejak saya minum yogurt, angka CD4 saya naik, dan inilah kenapa saya tau bahwa ini membantu sistem imun saya. CD4 saya naik dari 235 menjadi 315. Sejak ini banyak membantu saya, saya berhenti minum ARV... ini sederhana, ARV membuat saya sakit tapi yogurt tidak, dan rasanya enak." (Durhame, Perempuan, HIV+)


Testimoni-testimoni lain dapat dibaca di sumber nomor 1.

ARV dan Pencernaan
Dari banyaknya testimoni di jurnal tersebut, pasien di Afrika mengeluhkan masalah kesehatan dan pencernaan ketika mengonsumsi ARV, lalu membaik setelah mengonsumsi yogurt, bahkan beberapa memutuskan untuk berhenti ARV dan menyatakan adanya peningkatan CD4.
Dapat disimpulkan bahwa, selain memberikan racun/toxic, ARV juga menyebabkan ketidakseimbangan bakteri pencernaan dengan membunuh bakteri-bakteri menguntungkan dalam pencernaan, bahkan menimbulkan pertumbuhan bakteri merugikan yang menyebabkan diare. Itu lah mengapa pasien di Afrika mengeluhkan masalah pencernaan ketika ARV dan malah membaik setelah konsumsi yogurt.
Dengan perbaikan nutrisi, maka imunitas akan pulih dan meningkat, menyembuhkan keluhan-keluhan yang ada. Lalu, kenapa masih menenggak toxic berbahaya seumur hidup dan menggadaikan hidup bahagia dan produktif demi "janji palsu" panjang umur?


Gue enggak kudet,
bangkit bersama MAHA STAR! 

Sumber: